Ketika hari yang sangat mendebarkan di dalam hidupku itu tiba, aku pun meluncur ke TKP, eh, sebuah hotel di Jakarta.
Sepanjang perjalanan, terus kuyakinkan diriku untuk yakin dan percaya diri bahwa aku bisa menembus persaingan yang sangat ketat, karena bakal ada puluhan orang yang menjadi sainganku.

Dan ternyata benar, beberapa sainganku bahkan adalah kakak kelasku yang tujuh angkatan di atasku! Ada juga yang sudah menjadi supervisor di perusahaannya. Wah, harapanku semakin kecil nih. Dan satu hal lagi, aku paling muda diantara delapan puluh tiga peserta test yang datang hari itu.
Dan Alhamdulillah, Subhanallah, Allaahu Akbar! Ketika soal test dibagikan, sama sekali tidak ada test tentang hal-hal yang aku unduh dari internet, sama sekali tidak ada pertanyaan mengenai produkk perusahaan tersebut. Yang ada hanya soal- soal yang sangat dasar tentang kimia. Dan subyek lainnya, ini yang paling utama menurut perwakilan dari perusahaan tersebut adalah “The Learning Ability”, test kemampuan belajar.

Soal- soal yang lebih menyerupai Test IQ dibanding test masuk perusahaan, hanya ini diujikan dalam bahasa Inggris.
Soal- soal yang memang bakal menjadi “makanan empuk” untuk kecepatan membaca dan kecepatan berpikirku. Dan benar saja, dari satu jam yang diberikan oleh penguji, aku bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu dua puluh menit! Alhamdulillah.
Setelah melalui proses wawancara dan test medis, akhirnya aku pun ditawari kontrak kerja melalui email.

Ketika aku membuka file kontrak kerja dan jumlah yang tertera di kontrak itu seketika mulutku ternganga selebar-lebarnya, dan membuat jantungku berdegup kencang bukan main, dan aku pun langsung bersimpuh sujud syukur kepada Yang Maha Kaya.
Bagaimana tidak, ketika hitungan “juta” pun sudah terasa sangat besar, karena aku baru bekerja enam setengah tahun, masa kerja yang jauh lebih singkat dari para sainganku itu, aku ditawari kontrak kerja dengan jumlah lebih dari lima belas kali dari jumlah yang biasa kuterima.

Tanpa pikir panjang, aku pun langsung menandatangai kontrak itu dan mengirimnya ke bagian rekrutment perusahaan tersebut.
Seminggu sebelum aku terbang menuju negeri impian, aku bertemu dengan temanku di “dialog lima belas juta” itu, dan berbicara dengan yakin: “Mas, lima belas juta uangku yang kuhabiskan untuk membeli buku, dan mas bilang sia- sia, ternyata sekarang sudah balik modal, plus untungnya dikali beberapa puluh kali!”

Pengalaman hidup ini adalah bukti nyata bahwa ilmu jauh lebih berharga daripada harta benda. Uang yang kita belanjakan untuk membeli buku, atau untuk “membeli” ilmu, kemampuan baru, pengetahuan baru pasti akan kembali ke kita dengan nilai yang jauh lebih besar.
Jadi jangan sungkan dan jangan pelit membelanjakan uang untuk menambah pengetahuan dan kemampuan. Karena kamu akan dibuat takjub dengan apa yang kelak kamu dapatkan.
@didaytea
(Tulisan ini dimuat di buku “Apa Yang Paling Berkesan Hari Ini?”, One Peach Media)
*



