Seperti karya sastra bernilai tinggi lainnya, pemilihan judul tentunya tidak sembarangan.
Judul yang menjadi kepingan besar dari perjuangan hidup dan perjuangan meraih cinta dan cita- cita seorang Mutia Ahmad Sulaiman.
Jarang ada manusia yang bisa menjalani hidup dengan normal ketika ditimpa gunung bencana yang sama bertubi-tubi.

Tahun 2004 tsunami Aceh merampas nyawa kedua orangtua dan ketiga adiknya.
Tahun 2011, lagi-lagi tsunami yang disebabkan oleh gempa di Tohoku merenggut nyawa kedua orang tua angkatnya.
Di tengah balutan perangkap PTSD(Post-Traumatic Stress Disorder) akut yang mencengkramnya, Mutia masih berjibaku dengan cita-citanya menjadi Doktor Computer Engineering.
Keahliannya ini walau pun hanya sedikit sekali disebutkan dan Mutia tumpahkan di dalam novel ini, tapi menjadi titik balik yang melindunginya dari kesalahan besar.

Seperti novel Dilarang Bercanda Dengan Kenangan 1 & 2, Uda Akmal juga membuat tokoh utama berada dalam posisi sulit tak terperi ketika harus memilih dari tiga lelaki yang dicintainya.
Saya dibuat tak henti-henti menebak dan menduga siapakah yang akan dipilih. Seperti jalan zig-zag dengan belokan tajam, seperti itulah sensasi kita ketika terus menerus salah menebak siapa yang akan menjadi cinta sejati Mutia.
Saya beberapa kali tertipu dengan sepenuh hati mendukung pilihan Mutia, untuk ternyata berbelok ke arah lelaki lain, dan kembali tertipu lagi sampai betul-betul di ujung novel ini.
Letupan-letupan halus, dan percikan konflik yang tersebar tak terduga di sepanjang novel sungguh renyah tapi lembut untuk dinikmati.

Pelajaran terbesar dari novel ini untuk saya adalah ungkapan “Kalau jodoh tidak akan ke mana-mana, tapi kalau tidak ke mana-mana, ya bagaimana mau berjodoh?”.
Tapi, walaupun Mutia sempat mengatakan kalimat “I Love you scientifically” kepada salah seorang kandidatnya, sesungguhnya cinta dan jodoh bukanlah matematika.
Siiapakah yang pada akhirnya akan menggenggam cinta Mutia?
Apakah mualaf pakar genom dari Jepang yang mencintainya sepenuh hati, penyiar terkenal yang merupakan cinta pertamanya yang selalu bisa membuat hati Mutia meleleh dengan kejutan-kejutan romantisnya, atau seorang psikiater sholeh ganteng yang dengan sempurna menutup rapat-rapat obsesi cintanya sejak SMA kepada Mutia?
Selamat penasaran!




