Beberapa momen penting di era tahun 90an sangat related dengan kisah hidup saya juga. I feel him, terutama di bagian kisah Dayon menemukan jodohnya dengan tidak terduga dan terkira.
Dengan jeli juga uda Akmal memasukkan gaya menulis yang 90an banget ketika memasukkan dirinya sendiri ke dalam novel. Persis seperti Akira Toriyama yang muncul beberapa kali di dalam komik Dragon Ball.

Setidaknya saya memakai jam bermerk sama dengan Dayon.
Kalau dia memakai Casio G-Shock Mudmaster yang berharga 5 juta lebih, saya sih G-Shock yang berharga tidak sampai setengahnya.
Salah satu impian hidup saya sejak lama adalah kelak saya ingin makan Nasi Padang di Kota Padang. Beberapa bulan lalu juga saya baru tahu kalau ternyata Nasi Padang berbeda dengan Nasi Kapau.

Itulah kenapa ibu kos saya di Cilegon, ketika memasak rendang, dia tidak mau itu disebut sebagai rendang Padang, karena dia orang Dumai, jadi harus saya sebut rendang Dumai.
Itulah kenapa ibu kos saya di Cilegon, ketika memasak rendang, dia tidak mau disebut rendang Padang, karena dia orang Dumai, jadi harus saya sebut rendang Dumai.
Tapi novel ini tentunya bukan kisah hidup saya, tapi kisah perburuan seorang anak Kapau. Bukan perburuan hewan, tapi ini adalah kisah perburuan sebuah nama.

Novel ini seperti gado-gado yang sangat lezat. Dari kisah tentang dunia petualangan dan persahabatan Dayon dan teman-temannya yang seru, sampai ke dunia mistis dan mitos ketika cerita Iip dan Ina membuat bulu kuduk merinding. Lalu kisah Dayon yang berIQ 139 “menemukan” passion yang akhirnya dia pilih di atas usulan semua orang di sekitarnya berlanjut ke kisah tentang seluk beluk dunia perfilman yang membawa Dayon bertualang dari Kapau sampai ke Merauke, dan dari Busan sampai ke Utah.
Bahkan proses Dayon menemukan jodohnya, sangat romantis tapi logis dan tidak lebay pun tersaji dengan sedap berkelindan di dalam “cerita di dalam cerita” ini.
Tapi, semua kisah seru, romantis, suka, duka, kehilangan, pengetahuan, yang dibalut dengan sajian budaya Minang yang sangat informatif dan edukatif tanpa harus provokatif ini semuanya berpusat kepada satu hal:
Nama DAYON. Pencarian nama Dayon yang sempat menjadi stuntman karena tergila-gila ke Jackie Chan(lagi-lagi saya juga sama tergila-gilanya dengan Jackie Chan), ini pasti akan membuat kamu bingung tapi bahagia.

Pusing tapi senang. Kamu akan sedih tapi bersyukur dan iri melihat bagaimana kasih sayang Mak dan Abak terhadap Dayon.
Novel ini menjadi penegasan bahwa mas William Shakespeare sangat salah dengan menyatakan “apalah arti sebuah nama”, karena kenyataannya sebuah nama adalah bisa berarti dunia dan bahkan akhirat buat seseorang.

Jadi jika kamu semua sama penasarannya dengan saya tentang bagaimana lezatnya Cancang Kambiang Haji Marah, berarti kamu harus segera memesan novel Dayon ini.
Siapa tahu kamu seberuntung saya yang bisa mendapatkan novel yang ada tanda tangan uda Akmal Basral.
Doha, 16 Agustus 2021



