Penggemar drama Korea juga tentunya akan familiar dengan pengenalan budaya dan unsur-unsur ke-Korea-an ketika Dayang dan Sabai masih tinggal di Korea.
Novel khas Uda Akmal ini seolah menuliskan pesan bahwa kisah cinta dan pernikahan di dunia nyata tidaklah selalu seindah novel romantis dan sinetron opera sabun, apalagi drama Korea.

Romantisme dan cinta hanyalah satu faktor pencetus, pemula, atau katalis untuk memulai sebuh mahligai mulia bernama pernikahan.
Bagi seorang Muslim, pernikahan adalah ibadah dengan durasi paling lama. Bisa berlangsung dan berujung sampai ke dunia abadi setelah kematian.
Ketika impian dan keinginan dua insan yang menikah untuk bersatu selamanya, ternyata bisa saja kandas oleh perpisahan yang menyakitkan dan menyesakkan karena berbagai penyebab dan pemicu.
Inilah pernyataan pedih Sabai di hari istimewanya yang seharusnya istimewa:“Yang terpenting dari sebuah hubungan cinta bukan awalnya, tetapi akhirnya. Asmara yang berawal seindah kisah negeri dongeng tiada artinya kalau berakhir dengan tragedi.”
Walau pun berjudul “Sabai” tapi novel ini memberikan porsi yang besar untuk lika-liku kehidupan dan percintaan Dayangku Bestari, mamanya Sabai. Tidak sepanjang kisah Oshin sih, tapi bagi saya kisah pergulatan hidup kehidupan pernikahan Dayang, dan kehebatannya menerjang masalah kehidupan yang disajikan dengan renyah dan sejajar dengan kisah Sabai ini, patut dibuat novel terpisah.
Flashback kisah Sabai berdampingan rapi dengan pergulatan Sabai dan Dayon menjalani gelombang masalah-masalah yang menerpa rumah tangga mereka yang baru seumur jagung.

Bumbu kisah mistis pertemuan Dayang dan Sabai dengan Gumiho dan ajaibnya adaptasi Sabai ketika baru menginjakkan kaki di Jakarta juga menjadi bumbu penyedap dengan porsi yang pas.
Dr. Philip Zimbardo, seorang psikolog Amerika pernah berkata: “Past gives you root-to connect to your identity & family, to be grounded. Future give you wings- To soar to new destination and challenges. Present gives you energy- to explore people, places, self and sensuality”.
Inilah yang menjadi intisari kisah pergulatan jiwa Sabai di dalam novel ini.
Kehidupanlah yang menempanya, perjalanan hidup Sabai adalah kawah candradimuka yang ternyata tidak cukup untuk menghapus kenangan masa lalu yang ingin dia sembunyikan dari Dayon.
Jika saya bisa memberi nasihat kepada Sabai, dan Dayon, atau kepada para pasangan suami istri, baik pengantin baru atau pengantin lama, saya akan berpesan seperti kata Fiersa Bestari: “Masa lalu itu ibarat spion mobil. Ada banyak. Tapi, dilihatnya sesekali saja. Kalau keseringan, bahaya. Jangan lupa, kaca mobil yang paling besar itu yang menghadap ke depan.”

Nostalgia sekadar menertawakan dan mengambil pelajaran dari masa lalu kita boleh-boleh saja, tapi jangan sampai menjadi nostalgila.
Pesan penting lainnya dari kisah hidup Dayang dan Sabai adalah “Allah Maha Besar jauh lebih besar dari masalah apa pun yang terlihat besar di mata manusia. Semua masalah adalah kecil. Masalah terlihat besar jika dihadapi dengan mental kecil.”

Semakin pekat gelapnya malam, itu menandakan kalau terangnya pagi sudah semakin dekat. Hidup ini ya pada hakikatnya adalah perpindahan dari suatu masalah ke suatu masalah lainnya.
Dengan ending yang pastinya membuat senewen pembaca, pastinya novel Sabai ini harus dimiliki sepasang dengan novel Dayon. Karena novel ini bisa disebut adalah campuran sekuel Dayon dan spin off kisah Sabai, dan Ibunya, Dayang.
Doha, 22222



