Surat Terbuka untuk Ridwan Bae dari Forum Literasi Indonesia

Pernyataan “Google bisa menggantikan perpustakaan” menunjukkan kurangnya pemahaman anda terhadap apa perpustakaan itu dan bagaimana fungsinya. Sebagai tokoh publik, kami sangat menyayangkan hal itu.

Perpustakaan bukanlah tempat buku-buku dipajang semata. Di perpustakaan, orang bukan hanya mencari informasi sebagaimana fungsi Google yang Anda maksud. Kalaupun demikian, Anda juga perlu tahu bahwa tidak semuanya ada di Google. Banyak manuskrip atau buku tua atau buku terbitan terbatas belum didigitalkan dan di-Google-isasikan. Banyak berkas wawancara dengan tokoh adat atau penelitian lokal yang berkas fotokopinya hanya ada di perpustakaan.

Perpustakaan adalah wahana kegiatan literasi yang bersifat sosial dan meliputi banyak aspek kehidupan. Di perpustakaan, kita bukan hanya akan bertemu dengan ilmu (teks), tapi orang-orang lain yang juga memiliki konsen yang sama. Kemungkinan bertemunya mereka di bawah atap yang sama, memungkinkan terjadinya interaksi sehingga bukan hanya akses pengetahuan yang didapat, tapi juga interaksi sosial. Dan interaksi sosial potensial melahirkan pertukaran informasi dan cara pandang terhadap permasalahan dan kehidupan. Jadi, perpustakaan bukan hanya melahirkan pengetahuan, tapi juga jaringan. Kalaupun yang jadi patokannya adalah informasi. Maka, pengetahuan hanya berasal dari buku, tapi juga pergaulan.

Perpustakaan hari ini juga, sebagaimana kami terakan di awal surat ini, telah menjadi pusat pembelajaran masyarakat. Ketika kami, masyarakat yang peduli literasi, merasa ada yang kurang maksimal di perpustakaan, kami bukan menyuarakan agar pembangunan perpustakaan dihentikan atau memprovokasi orang-orang untuk merobohkannya. Tidak. Kami memperkuat fungsinya dengan melahirkan perpustakaan-perpustakaan baru dalam wujud taman baca, komunitas literasi, forum diskusi, kelas film, atau aktivitas kebudayaan. Apalagi, misalkan Anda berkunjung ke Perpustakaan Daerah Banten, Balikpapan, Banjarbaru, Samarinda, Lubuklinggau, Banda Aceh, Padangpanjang, Surabaya, dan Jepara—sekadar menyebut beberapa untuk contoh—Anda akan melihat bagaimana kelas komputer, menulis, dan diskusi buku dan kebudayaan kerap digelar. Bahkan, untuk anak-anak, disediakan ruangan bermain.

Pernyataan bahwa “Google bisa menggantikan perpustakaan” menunjukkan kalau Anda tidak melihat bagaimana pegiat literasi berlomba-lomba membangun perpustakaan di ruang-ruang publik. Anda akan terkejut bahwa perpustakaan publik alias taman bacaan masyarakat (TBM) membuat warganya punya bank sampah, menyelenggarakan kelas aksara lokal, rutin menghelat festival film, atau bahkan saling kunjung-dan-tinggal di “perpustakaan” masing-masing untuk belajar dan menyerap praktik baik agar melihat kehidupan dengan lebih literat, peka, terbuka, dan bijaksana.

Coba Anda tunjukkan kepada kami, seperti apa Google menggantikan fungsi-fungsi perpustakaan sebagaimana yang tertera di atas?

Nah sekarang, kami mencoba melihatnya dalam sudut pandang yang lain.

Bisa saja, ketika menyampaikan pernyataan itu, Anda hanya keceplosan karena terbawa emosi sebab Anda memang sedang menyampaikan kritik. Kalau memang demikian, kami harap Anda berjiwa besar untuk menyampaikan klarifikasi kepada para pegiat literasi di negeri ini yang telah berjibaku menghidupkan perpustakaan karena kami menginginkan pembelajaran yang manusiawi, yang mendekatkan dan menggembirakan, bukan hanya lewat gawai yang menyebabkan generasi ini terjauhkan satu sama lain sebab merasa semuanya bisa didapat lewat Google.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

2 Komentar

  1. Ngapain juga kita pilih wakil rakyat, kan ada Google yng bisa ngawasin eksekutif!

  2. Semoga kedepan nya karir bapak semakin baik dan semakin Cinta terhadap budaya baca anak bangsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==