Kemudian, pandangannya teralihkan pada tubuh kaku yang duduk di sampingnya dengan kursi goyang yang sama. Kepala yang berambut pirang, bahu yang tak kokoh seperti semula tetapi bertambah subur pada kesabaran untuk rebah ke dalam liang lahat. Senyum semakin samar, rengkuhan kian hambar dan meninggalkan kecemasan yang semakin abadi.
Cerpen Sabtu: Foto dan Tubuh Karya Palito

















