Puisinya jenaka tapi juga punya kedalaman—tentang kekacauan kecil yang bisa tumbuh besar, sampai sang tokoh harus “lari dari rumah” gara-gara kucing! Gaya bahasa sederhana tapi efektif, dan ada ironi halus di akhir saat orang-orang malah menganggapnya “si raja kucing,” padahal dia justru korban dari invasi para kucing 😄
Kucing Tetangga dalam Puisi

