Yaa salaupun weekend ini gak sesuai rencana, aku tetap bersyukur dapet waktu buat recharge dan belajar lebih mandiri.
Sakit Sendirian di Kos? Ternyata Banyak Hikmahnya

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Yaa salaupun weekend ini gak sesuai rencana, aku tetap bersyukur dapet waktu buat recharge dan belajar lebih mandiri.

Dari pengalaman ini aku belajar buat lebih terbuka sama peluang baru, dan jadi lebih pede buat coba hal-hal yang sebelumnya gak pernah aku pikirin.

Korea Corner menurutku pribadi emang lebih cocok buat belajar sendiri atau baca-baca santai. Kalau mau diskusi rame-rame, kurang pas, karena di sini emang harus jaga ketenangan.

Pengalaman Volunteer di Nonsan Strawberry Festival Jakarta 2025 ini gak cuma ngasih kesempatan untuk ikut serta dalam festival besar, tapi juga nambah wawasan dan relasi baru. Kalau ada kesempatan lagi, aku pasti tertarik untuk kembali menjadi volunteer di acara serupa.

Pas Naura bawain lagu masa kecilnya, aku langsung terharu. Rasanya kayak balik lagi ke masa kecilku, dulu aku sering denger lagu-laginya di rumah setelah pulang sekolah. Semua kenangan itu langsung muncul, bikin aku rindu masa kecil. Naura juga interaktif banget sama penonton, gak kaku. Penontonnya juga gak kalah semangat, semua excited banget liat Naura nyanyi.

Setelah nonton Bang Yedam secara langsung di Nonsan Strawbery Festival Jakarta 2025, suaranya ternyata jauh lebih keren dari yang aku duga, sesuai dengan yang aku dengerin lewat layar hp. Selain itu, Yedam juga keliatan lebih manly di kehidupan nyata. Performancenya seru banget, suasananya cair dan penuh energi!

Oh ya, alasan utama aku daftar jadi Volunteer Nonsan Strawberry Festival 2025 karena selain dapat uang sambil sekalian improve bahasa Korea dan Inggris. Selama acara, aku sering ngobrol langsung sama orang Korea, baik panitia maupun pengunjung, jadi volunteer ini buatku adalah kesempatan bagus buat praktik bahasa secara langsung. Selain itu, karena tugasnya sering berubah-ubah, aku belajar buat lebih fleksibel dan cepat tanggap dalam berbagai situasi.

Adaptasi kolaboratif ini aku mulai dari hal kecil, yaitu belajar berkomunikasi dalam kelompok. Aku berusaha untuk lebih terbuka, menyampaikan pendapat, dan mencari cara agar semua anggota bisa berkontribusi dengan adil. Aku gak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti saat aku di SMA. Dimana aku hanya diam ketika merasa keberatan. Sekarang, aku mulai memilih untuk berdiskusi dan mencari solusi bersama.

Sekarang-sekarang, setiap kali aku inget Solo, yang terbayang bukan cuma tempat-tempat wisata atau suasana kota, tapi juga lukisan-lukisan mural yang telah memberi jiwa pada jalan-jalan di Solo.

Meskipun aku gak tertarik untuk terjun ke dunia hiburan dan musik, pengalaman ketemu langsung dengan idol Korea kayak Nihoo si content creator asal Korea ini tetep ngasih kesan yang luar biasa. Siapa sangka lho, acara yang awalnya cuma formalitas jadi salah satu momen yang bakal dibicarain terus!

Yang bikin kolam Isola UPI Bandung makin nyaman itu, setiap orang yang duduk di sana punya tujuannya masing-masing. Tanpa saling menatap pun, kami semua saling menghargai ruang masing-masing.

Pengalaman mengerjakan tugas UAS di Podcast FPBS UPI Bandung ini menyenangkan banget dan membuka wawasan baru buatku. Proses rekaman podcast yang awalnya aku kira bakal sulit ternyata berjalan dengan lancar dengan kerjasama anggota. Setelah merasakan pengalamannya, aku jadi mau mencoba lagi.

Perjalanan ke pasar baru dari kos agaknya kocak tau. Aku dan temanku ke Pasar Baru naik kereta, berangkat dari Stasiun Bandung sekitar jam 08.30 lalu turun di Stasiun Cikudapateuh dekat pasar Kosambi. Ternyata, kami salah! Bahkan sebenarnya kami gak perlu naik kereta sama sekali, cukup naik angkot dari kos dan turun di Braga aja lalu jalan sedikit ke Pasar Baru.

Di kepanitiaan K-Fest UPI 2024 ini, aku bekerja sama dengan angkatan sendiri dan juga para kakak tingkat yang ikut kepanitiaannya. Kating di divisiku banyak memberikan arahan dan membantu aku memahami alur kerja dalam sebuah event besar.

Dari pengalamanku, sistem Face Recognition ini praktis banget, terutama bagi yang sering bepergian dengan kereta. Kita gak perlu lagi buka hp atau cari tiket saat di gate, cukup wajah kita sendiri sebagai akses untuk masuk. Selain itu, fitur ini juga ningkatin keamanan karena hanya penumpang yang udah terdaftar dan punya tiket yang bisa masuk ke peron, jadi menurutku lebih susah untuk disalahgunakan.

Satu hal yang sedikit membuatku canggung hari ini adalah bertemu kembali dengan teman-teman setelah lebih dari sebulan gak bertemu. Entah kenapa, rasanya jadi agak malu dan kikuk saat ketemu lagi, seolah-olah harus menyesuaikan diri lagi dengan suasana kelas.

Selain itu, harga-harga barang di Borma juga lebih cukup buat kantong mahasiswa dibandingkan supermarket di mall. Faktanya, hampir semua teman kuliahku jadi pelanggan tetap Borma, lho. Kayaknya bisa dibilang, Borma tuh udah jadi rumah kedua bagi anak rantau (*)