Ya. Sekarang curhatnya di medsos. Itu tidak bisa kita lawan. Kata Nabi Muhammad SAW, “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya.” Tapi kalau tidak ada agama di meja makan, lantas apa? Kolesterol? Rahasia yang disembunyikan di antara bunyi piring yang beradu dengan sendok-garpu? .


Lantas kenapa tidak ada agama di meja makan? Apakah agama itu urusan pribadi? Kenapa kita tidak boleh membicarakan agama di meja makan? Tabu? Sensitif? Melanggar undang-undang karena termasuk SARA?

Buku ini unik. Covernya merah yang sering kita asosiasikan sebagai “kiri yang komunis dan tidak bertuhan”. Juga teringat Khong Guan biskuit jika melihat gambar di covernya: keluarga sedang makan. Sebagai Duta Baca Indonesia, tentu saya gembira ketika menemukan buku-buku diterbitkan (padahal sedang trend e-book) dan penulis baru bertumbuhan di daerah.

Ada sekitar 25 cerpen, yang teknik penceritaannya didominasi dengan “telling” dan point of view “aku”. Tentu ketika membacanya ibarat sedang mendengarkan orang bercerita. Betul-betul tiruan dari kehidupan sehari-hari, hal yang pernah disinggung Plato. Mimesis. ADa cerita tentang preman tanggung yang kena sipilis, pembunuh bayaran, rumah singgah, dan… Beli saja ke Penerbit Epigraf di lokapasar.

Buku kumcer karya Ella Mart ini sangat menarik, terutama ketika para penulis mainstream sudah sering kita baca. Sesekali bacalah cerpen-cerpen yang ditulis oleh “siapa, ya?”, yang namanya belum familiar di telinga kita, belum pernah kita baca dan kita dengar. Supaya daftar penulis di rak buku kita bertambah.

Maaf, sebelum dingin kopinya, aku seruput dulu ya. Baca saja kumpulan cerpen “Tak Ada Agama di Meja Makan” karya @rella_mart , terbitan @buku.epigraf .
Gol A Gong – Duta Baca Indonesia


