Saya dan Tias diberikan pilihan, beli tiket di loket atau mesin. Di loket antreannya panjang. Tapi di mesin masih wajar. Setelah tiket di tangan (tentu kalau kami menulis nomor paspor), siapa pun dia, beli di loket atau mesin, ketika masuk ke ruang tunggu sudah digital. Tidak punya tiket, tidak bisa masuk.

Kita duduk saja di depan pintu yang tertera di tiket. Kami di Gate D. Menunggu panggilan, keberangkatan pukul 10. Bayangkan saja, Anda sedang di bandara, menunggu panggilan masuk pesawat.

Saya yang sudah menyusuri dari Sabang hingga Merauke, berpikir mestinya semua terminal bus di Jawa terutama, sudah digital. Stasiun kereta api dengan PT KAI yang progresif dan inovatif sudah melakukan itu. Jalur Merak ke Tanah Abang yang tadinya “barbar” sudah memanusiakan para penumpangnya.

Kota Serang yang terminal busnya masih baru, Dinas Perhubungan dan Diskominfo sudah harus memikirkan ini. Gubernur Banten dan para Walikota serta Bupati harus duduk satu meja membicarakan ini. Studi banding ke Melaka aja, murah dan meriah.

Saya membayangkan Kota Serang, yang juga mulai berpikir ke arah sana. Jadi terminal modern. Masak sih sebagai ibukota Provinsi Banten tidak berpikir ke sana. Melihat loket PO Busnya masih meja-meja seperti meja pendaftaran di kampus dan sekolah.

Ayo, Kota Serang, berubah sekarang. Aje kendor.
Gol A Gong
Traveler

