Oleh Zaeni Boli
Adalah Tapir Studio, sebuah kelompok seni asal Malaysia, yang tampil di Djakarta Internasional Theater Platform pada hari kedua di Ruang Teater Wahyu Sihombing, tercatat kemarin, Rabu, 6 Agustus 2025. Kelompok yang membawa lakon Tidur Lambak ini mementaskan karya tersebut sebanyak dua kali—yang pertama pada pukul 14.00 WIB siang, sementara pertunjukan kedua mereka laksanakan pada pukul 20.00 WIB.
Ada banyak hal menarik dalam pertunjukan ini. Yang pertama mungkin bisa disebut: bagaimana cara penonton masuk ke ruangan Wahyu Sihombing. Para penonton diarahkan oleh panitia dan diatur untuk masuk bergiliran sebanyak enam orang atau kurang.

Ada yang membawa teman, ada yang membawa keluarga, dan mungkin ada juga yang baru kenal. Saya sendiri masuk di awal pertunjukan pertama bersama kawan dari Tegal yang juga tamu undangan seperti saya—Mas Gandar namanya.
Di dalam ruangan, kami disediakan kasur roti dan juga bantal untuk bisa dipakai duduk atau tiduran. Iya, tiduran. Tidak perlu sungkan untuk tidur dalam pertunjukan ini.

Pertunjukan Tidur Lambak adalah sebuah cerita kecil tentang seorang pria yang kesulitan tidur malam dan membutuhkan teman. Konon, di Malaysia saat orang susah tidur, justru akan mengundang tamu undangan untuk bisa bermalam di tempatnya atau rumahnya.
Dalam tema besar Djakarta Internasional Theater Platform tahun 2025 yang memang mengangkat tema Rumah Panggung—sebuah konsep yang mengingatkan kita pada kebiasaan berkumpul dalam keluarga besar—hal ini juga terkoneksi pada budaya yang ada di Asia Tenggara sebagai saudara serumpun.

Bagi yang awam seperti saya, menonton pertunjukan seperti ini mungkin terasa asyik. Sebuah pertunjukan yang tidak heroik, tapi dekat dengan kehidupan masyarakat urban hari ini. Pertunjukan ini juga mampu membangun chemistry antara pertunjukan itu sendiri—sebuah pertunjukan yang cair dan bersahabat.
Penonton diajak tak hanya menjadi penonton, tapi menjadi bagian dari pertunjukan itu sendiri lewat pesan-pesan yang memang sudah disiapkan sejak awal.

Penonton diminta menuliskan apa saja tentang mimpinya, dan jika berkesempatan, dalam konsep teater arena para penonton bisa membacakan mimpinya kembali. Ada yang kangen keluarganya yang sudah tiada, ada yang mulai muak dengan pekerjaan, ada yang bicara tentang kekerasan yang mungkin jadi trauma, ada juga yang… mesum.
Ada perbedaan yang cukup terasa antara pertunjukan pertama dan kedua, khususnya pada jumlah penonton. Pada pertunjukan pertama, pemain lebih leluasa bergerak untuk melakukan perform, sementara pada pertunjukan kedua hal tersebut tidak bisa leluasa dilakukan. Namun, justru itu menarik—interaksi dengan penonton jadi lebih hidup.

Ini pertunjukan pertama yang saya tonton sebagai tamu undangan dalam agenda Djakarta Internasional Theater Platform 2025. Saya tak sabar menyaksikan pertunjukan-pertunjukan yang lain.



