Tokoh Kita: Apresiasi Kiai Budi untuk Sketsa-sketsa Saya yang Sederhana

Sebelum tanggal 3 Desember, kami beres-beres rumah dan membeli bekal makanan untuk menyambut kedatangan Kiai Budi. Sabtu tanggal 3 Desember, pagi hingga sore saya stand by di rumah. Ternyata hingga ashar, Abah tak kunjung memberi kabar jadi apa nggaknya. Menjelang magrib beliau nelpon tapi nggak keangkat. Setelah magrib saya telpon balik.

“Aku rada lelah le, sampeyan yang masih muda yang nyamperin Abah ya, naik grab aja. Abah ada di PCNU Jakarta Timur.”

“Waduh lumayan jauh, Abah. Saya nggak punya ongkosnya kalau naik grab,” jawab saya apa adanya.

“Udah le, kamu pesan grab ae, baliknya Abah grabin lagi. Bawa anak istri, biar abah kenal keluargamu. Oke, ya. Assalamualaikum!” Sambungan telepon beliau tutup.

Waduh gimana ini, saya gelisah; berangkat apa nggak. Ke kamar istri, ia masih sholat magrib.

Begitu istri saya beres sholat saya sampaikan permintaan Kiai Budi. “Ya, udah kita manut aja. Ada uang pesanan kerudung, kita bawa dulu buat jaga-jaga!” Begitu respon istri.

Kami pun berangkat bakda magrib. Karena malam Senin jalanan rada macet. Sekitar pukul 22.40 WIB barunya nyampe Jakarta. Di peta gocar kami akan tiba lokasi sekitar pukul 23.15 WIB.

Saya sedikit was-was khawatir Kiai Budi sudah tidur. “Bah, maafin telat ya, jalanan macet!”

“Nggak apa-apa, santai aja!”

“Takutnya Abah udah tidur!”

“Nggak. Kalau malam Abah melek. Le”

Tepat pukul 23.20 wib kami tiba di lokasi. Di beranda kantor PCNU Jakarta Timur tampak banyak orang yang tengah asyik memainkan gitar dan rebana. “Masuk, Kang Anas!” Suara Kiai Budi terdengar menyambut kedatangan kami.

Memasuki ruangan, saya dan Abah langsung berpelukan layaknya orangtua dan anak yang lama tak bertemu. Lalu saya diajak melihat-lihat lukisan pakde Jabo yang dipajang di ruangan PCNU. Ada lukisan Jalaluddin Rumi, syeikh Hasyim Asy’ari, Gus Dur, Mbah Maimun Zubair, juga lukisan wajah Abah Budi sendiri.

Setelah itu beliau memimpin para pemain gambus untuk mendendangkan syair Hai Hawa, dan laibaik Allah.

Pertemuan yang aneh dan penuh kejutan. Semua sketsa saya beliau ambil. Ada mungkin sekitar 40 sketsa. Saya pun beliau wajibkan hadir saat acara haul Jalaluddin Rumi nanti.

Terimakasih Abah Budi, sudah mengapresiasi dan menyemangati saya yang masih merangkak di dunia seni rupa. Moga kelak saya bisa menghasilkan karya yang bagus dan khas. Aamiin.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==