Seperti biasa, titik awal keberangkatan jam 09.00 pagi dari kota Yogyakarta tepatnya di hari Minggu yang bisa dibilang cuaca cukup cerah sesekali mendung. Saya dan sahabat saya berangkat menggunakan sepeda motor dengan panduan google maps setelah sarapan.
Estimasi perjalanan di perkirakan sekitar 1 jam 30 menit melalui rute jalan Magelang dikarenakan kami berangkat dari Yogyakarta. Jangan lupa tetap perhatikan kondisi kendaraan sebelum berangkat mengingat jarak tempuh perjalanan cukup jauh dan antisipasi medan perjalanan yang belum sepenuhnya sesuai ekspektasi dan prediksi.

Pagi ini melewati kota Magelang dengan kondisi lancar dan tidak terlalu macet seperti hari biasanya. Cuaca cerah namun tetap sejuk ketika melewati kota ini. Motor terus di gas mengikuti arah panduan google maps dengan harapan jangan di arahkan ke jalan-jalan pintas yang agak membuat khawatir, tapi Alhamdulillah kali ini tidak.
Dari perkotaan kami diarahkan melipir masuk ke jalan tembus Blabak-Boyolali kemudian bertemu dengan Pasar Banyu Temumpang dan terus ikuti petunjuk google maps hingga sampailah kami di sebuah desa yang bernama Wonolelo, di mana ciri-ciri desanya ada bundaran tugu kecil pria Jawa di depan gerbang desa ini. Kami memasuki jalan gerbang desa dan tidak jauh dari sana, pada akhirnya sampailah kami di destinasi Air Terjun Kedung Kayang.
Pagi menjelang siang ini bisa di bilang cukup sepi hanya ada beberapa pengunjung dan penduduk lokal saja disana. Dari arah parkiran terlihat tidak ada istimewanya. “Ah dalam hati saya biasa saja, mungkin destinasi ini belum terlalu banyak peminat dan belum banyak yang tau tapi coba lihat kedalam saja semoga tidak mengecewakan dan sesuai dengan postingan yang pernah kami lihat, bukan sekedar editan yang membuat tempat ini menarik”.
Kami kemudian membayar tiket masuk per orang sebesar 5.000 rupiah/orang belum include biaya parkir. Tapi tenang biaya parkirnya aman kok, hanya 2.000 rupiah/motor dan 5.000 rupiah/mobil. Lumayan cukup sesuai kantong anak kos bukan?
Setelah urusan tiket masuk dan parkir beres. Kami kemudian berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang telah dibuat oleh penduduk setempat. Sepanjang perjalanan melewati banyak sekali gazebo yang di sediakan sebagai tempat wisatawan istirahat jika kelelahan dan jika di perhatikan tempat ini masih dalam proses pengembangan wisata sepertinya.
Ada beberapa pendirian beberapa bangunan yang masih dalam proses pembangunan. Lumayan melelahkan dan cukup jauh dari parkiran menuju spot yang kami targetkan hingga beberapa menit kemudian sampailah kami di sebuah percabangan yang berisi petunjuk, di mana arah kanan mengarahkan ke air terjun dan ke kiri mengarahkan kami ke spot foto yang bisa melihat keindahan air terjun dari atas sekaligus view gunung merapi.
Kami kemudian memutuskan untuk mengarah ke spot foto terlebih dahulu mumpung tidak terlalu ramai sebelum melanjutkan perjalanan menuju air terjun. Setelah melewati beberapa tapak tangga beton sungguh takjub ternyata indah sekali. Warga setempat telah menyediakan spot berfoto dimana pemandangannya air terjun kedung kayang dan jika cuaca cerah ada bonus gunung merapi juga bisa di lihat dari sini.

Spot foto di sini gratis tetapi harus tetap hati-hati karena di bawah spot ini adalah jurang, tapi untuk masalah keamanan sepertinya sudah di pastikan spot ini kokoh oleh penduduk lokal. Karena lumayan cukup sepi kami bisa sepuasnya berfoto tetapi tetap harus bergantian dengan wisatawan lainnya juga ya.
Setelah puas berfoto kami melanjutkan perjalanan menuju air terjun melewati tangga beton yang sudah dibangun oleh penduduk setempat meskipun hanya setengah, belum sepenuhnya sampai bawah. Lagi-lagi saya merasa salah kostum disini karena belum tau medan yang bakal di lalui. Ternyata bukan sekedar medan naik kendaraan saja yang perlu di perhatikan dan pertimbangkan tetapi medan di lokasi wisata juga perlu di searching.
Alhasil siang ini kembali mendadak tracking dengan sandal jepit saya yang tidak direkomendasikan. “Ah menyebalkan” dalam hati saya. Perjalanan awal menuju air terjun masih oke karena masih turunan tidak begitu capek namun perjalanan menuju ke bawah ini lumayan jauh dan curam dan sontak saya langsung membayangkan perjalanan nanti waktu mau naik pulang ke atas gimana ya? treknya bakalan jadi naik terus nih. Ah sudahlah pikir saya dalam hati.

Kami terus menyusuri jalan hingga ujung tangga beton habis, kemudian melewati jalan semak seperti perkebunan dan sesekali masuk hutan bambu lebat dimana tantangannya setelah ini harus meniti tangga kayu ke bawah yang telah disediakan dan cukup curam. Hingga kemudian kami bertemu dengan aliran air sungai yang dingin dan tidak cukup deras karena kondisi cuaca sedang cerah, terus mengikuti aliran sungai dan akhirnya kami sampai ke air terjun kedung kayang yang menjulang tingginya dan aliran yang deras.
Sungguh indah seperti surga tersembunyi menurut saya. Di sini ternyata banyak wisatawan yang bersantai ria dan mandi padahal di atas tadi kelihatannya tidak terlalu ramai tapi ternyata di bawah banyak sekali orangnya. Kami melepaskan penat perjalanan sambil bermain air tapi sayangnya tidak mandi karena lupa bawa baju kering meskipun tetap kena basah-basahan cipratan air juga nanti hehe. Lagi-lagi di sini harus tetap berhati-hati karena di sini banyak bebatuan yang cukup licin khawatir risiko terpeleset dan terkilir.
Oh iya sekedar tips dan informasi buat teman-teman yang ingin berkunjung ke air terjun kedung kayang. Destinasi ini di buka dari pukul 07.00-17.00 setiap hari kecuali hari Jum’at. Disarankan pergi saat kondisi cuaca cerah bukan pada saat musim hujan karena bisa terbayang debit airnya pasti tinggi dan sungai aliran dekat air terjun ini juga bakalan tinggi dan arusnya deras sekali.
Usahakan memakai sandal yang tidak licin karena treknya lumayan curam dan bebatuan di sini lumayan licin jadi harus tetap berhati-hati, perhatikan setiap langkah. Seperti biasa kondisi kendaraan tetap harus prima dan di cek sebelum berangkat karena banyak tanjakan yang akan di lalui menuju destinasi ini.

Dikarenakan lokasi Air Terjun ini berada di antara Boyolali dan Magelang, maka ada dua rute yang bisa di tempuh untuk menuju lokasi ini. Jika berangkat dari Yogyakarta hanya perlu mengambil jalan menuju Muntilan kemudian selanjutnya menuju jalan Blabak-Boyolali atau jika ingin melewati jalur alternatif bisa melewati Serma Darmin, Tlatar kemudian menuju jalan Candaran.
So, tunggu apa lagi ayo berkunjung kesini. Cocok untuk tempat rekreasi keluarga dan hangout bareng teman-teman dengan nuansa alam yang asri. Semoga bermanfaat.
Tentang Penulis:
Rizki Amaliyah berasal dari Bangka Belitung lahir pada 29 September 1996. Saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di salah satu kampus Islam Yogyakarta. Sebuah perjalanan dan pengalaman akan sangat berkesan bila di tuangkan melalui tulisan. Semoga senyuman setiap pembaca yang membaca tulisan ini bisa menjadi amal jariyah untuk penulis.

TRAVELING setip hari Jumat. Nah, kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling di luar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honoarium Rp. 100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling.


