Dalam kesehariannya, seorang santri memiliki sifat Takdziman Watakriman kepada sang guru melalui berbagai cara, seperti; membersihkan rumah sang guru, memberikan makan untuk hewan ternak milik guru, memijat guru atau sebagainya.
Hal tersebut dilakukan bukan karena sang santri seorang pembantu, namun untuk mengambil hati sang guru agar mendapatkan ridho dan doa khusus untuknya. Hidup dalam keberkahan dan kebermanfaatan untuk masyarakat, sehingga tidak lagi takut dalam menghadapi setiap masalah, karena sejatinya itu adalah ujian untuk menambah keimanan.

Dalam tradisi pesantren tradisional (salafiyah), guru pesantren tidak pernah memungut bayaran selayaknya pesantren yang berdiri atas nama yayasan atau lembaga resmi. Ia tidak ada bayaran SPP, bulanan, tahunan atau sebagainya. Santri yang akan belajar seluas-luasnya diberikan akses secara gratis. Dan sebaliknya, kata “gratis” ditukar dengan bentuk Takdziman Watakrimannya kepada sang guru.
Melestarikan bukan berarti tidak bisa di-inovasi atau diperbaharui dengan hal baru. Seyogyanya, di era digital seperti sekarang ini, seorang santri bisa memperkenalkan pondok pesantren dengan berbagai konten kreatif, agar lebih dikenal dan dijangkau masyarakat luas. Tujuannya tentu agar melestarikan budaya pesantren yang sudah disebutkan di atas.

Serta masih banyak hal yang bisa dijadikan bahan kreatif lainnya. Dengan catatan “tidak merugikan atau tidak memberikan mudorot”. Dari santri untuk negeri. Mari membangun peradaban yang lebih maju.


