Begitupun dengan Amerika dan Eropa. Dua benua itu menyimpan banyak kisah dan rahasia. Dua benua “raksasa” itu pernah menjadi sorotan utama dunia pada Perang Dunia II, karena beberapa negara di dua benua itu berusaha saling menguasai negara-negara lain.
Perjalanan yang dilakukan Myrna Ratna ke negara-negara Amerika dan Eropa merupakan perjalanan sejarah—atau mendalami kembali masa lalu—gedung-gedung tua yang ditemuinya, meski beberapa perjalanan lainnya menawarkan pengalaman berbeda. Gedung-gedung tua memiliki kisah dan rahasianya sendiri.

Ada 6 kota di Amerika dan 15 kota di Eropa yang ia kunjungi, yang kemudian dibukukan dengan judul Kompas Traveller Amerika dan Eropa (Penerbit Buku Kompas, 2013). Sebuah perjalanan yang mungkin diidam-idamkan oleh banyak orang. Siapa yang tidak mau pergi ke Negara-negara di dua benua tersebut? Kita dapat belajar banyak hal dari negara-negara maju di sana.
Sepertinya Myrna Ratna adalah sosok yang mengagumi seni, dan ia memahami dan memiliki referensi yang kuat terhadapnya. Dalam hal ini seni yang dimaksud adalah seni rupa, arsitektur dan interior—disamping ia menyukai sastra dan film.

Ia membagi pengalamannya kepada kita tentang apa yang terjadi dan ada di Vancouver, Kanada. Betapa “majemuk”-nya kota itu, dengan beberapa bahasa yang digunakan di sana, dan orang-orang di sana adalah pendatang. Ia melihat, betapa orang-orang di sana sangat menghormati orangtua dan penyandang cacat. Bagi mereka, orang cacat harus diutamakan, bukan dicemooh atau dipandang nyinyir.
Tetapi Myrna Ratna tak bisa mengelakkan diri dari seni, dan ia tergiur untuk memotretnya, kemudian memperlihatkan pengalamannya kepada kita dalam bentuk buku perjalanan. Ia memotret matahari senja yang bergerak di sela-sela gedung kaca, instalasi karya Jill Anholt yang menyatu dengan alam, patung-patung di pusat kota Vancouver buatan Yue Minjun, patung seorang putri duyung di tepi pantai, dan lukisan di aspal karya seniman jalanan. Ya, ia penggila seni.

Kesenangannya terjawab, dan barangkali Myrna Ratna sangat bersyukur, ketika ia menjatuhkan pilihan untuk mengunjungi Museum Solomon Guggenheim yang dirancang Frank Lloyd Wright di New York, Amerika Serikat. Kebetulan di sana sedang digelar “From Picasso to Pollock: Classics of Modern Art”, dan memberi bonus dengan pameran lukisan karya Vasily Kandinsky.

Tak dipungkiri, saya merasakan kebahagiaan sang petualang perempuan ini, ketika ia memulai “perjalanan batin”-nya dengan menikmati Alicia karya Joan Miro, kemudian Picasso, kemudian Marc Chagall. Nama-nama ini akan terasa begitu dekat-akrab bagi para pecinta seni rupa.
Perjalanan Myrna Ratna tidak semata menjelajahi seni rupa, dengan segala kisah dan rahasianya, tetapi juga keindahan yang dapat hadir dalam bentuk lain, dalam bentuk tata taman, seperti di Sunken Garden, terletak di taman Butchart, kota Victoria. Dalam buku ini, Myrna Ratna menggunakan deskripsi yang sederhana, mudah dipahami karena tidak berbelit, namun tetap menjaga keindahan metafornya. Perhatikan ini: Sejak dari pintu masuk, mata sudah dimanjakan oleh taman sari rumpun bunga. Mereka menyembul dari kisi-kisi pergola, menjalari pagar-pagar kayu yang memunculkan suasana Mediterania. Dari titik ini jalan terbelah ke berbagai arah.

Dalam buku ini, ia juga lebih banyak berbagi sejarah suatu bangunan dan kota, seniman-seniman adiluhung beserta alirannya. Harus diakui, referensinya tentang seni begitu kuat, sehingga ia sulit melepaskan sejarah dan beraneka ragam hal yang membelitnya dalam catatannya. Seperti yang ia alami di Brussel (Belgia) yang dicerahkan oleh gambar-gambar komik di dinding jalan dan gedung kota, gedung-gedung tua di Brugge (Belgia) yang menyuguhkan suasana abad pertengahan, atau keindahan lain kota Paris (Prancis).
Setiap bab dalam buku ini pun ditulis dengan cukup singkat; tidak terlalu panjang, sehingga dapat dibaca ketika kita menunggu bus, teman di perjalanan, atau pesanan di restoran.
Dengan kesederhanaan bahasa namun tetap menjaga metafornya, Myrna Ratna membagikan pengalamannya di Amerika dan Eropa, beserta sejarah dan rahasia-rahasia yang ditemuinya. *



