“dasar orang kota, seenaknya saja mau mengambil tanah dan laut kami,” dari kejauhan sekelompok warga bergosip tentang proyek yang besar yang sedang disipkan oleh orang-orang yang baru sebulan itu datang ke wilayah mereka.
Sejak pertama kali orang-orang kota datang membawa proposal besar tentang proyek reklamasi yang akan ‘memajukan’ kawasan pantai ini. Dan Feri anak dari salah satu nelayan tertua di kampung itu menjadi titik pusat pertentangan, meskipun ia sendiri tak pernah meminta peran itu.
Tapi saat itu, Feri sudah merasa goyah. Tawaran pekerjaan dari perusahaan konstruksi yang datang bersamaan dengan janji reklamasi membuatnya goyah. Ayahnya memang benar laut adalah rumah mereka. Namun di sisi lain, Feri tak bisa mengabaikan kenyataan bahwa bekerja sebagai nelayan tak lagi cukup. Hasil tangkapan semakin berkurang. Sementara kebutuhan hidup semakin mendesak.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika Mang Fadli bersikukuh untuk memimpin perlawanan. Bersama beberapa nelayan lain, ia menggalang protes menolak proyek reklamasi itu. Bagi orang-orang kampung, Mang Fadli bukan sekadar pemimpin, ia adalah simbol perlawanan yang tegas dan tak tergoyahkan. Namun bagi Feri, ayahnya mulai terasa seperti penghalang.
“Kenapa harus begini, Pak? Kita bisa hidup lebih baik,” kata Ferisuatu malam di rumah mereka yang sederhana. Mang Fadli, dengan wajah penuh keriput yang tergores oleh tahun-tahun kerja keras di laut, menatap Feri dengan tatapan yang dingin.
“Laut bukan sekadar tempat kerja, Ri. Ini yang memberi kita hidup. Kamu nggak ngerti.”
Feri mengatupkan rahangnya, menahan kata-kata yang sudah ingin meledak. Ia paham apa yang dimaksud ayahnya, tapi apakah hanya menjaga tradisi cukup untuk bertahan hidup?




