Dalam pernyataannya Wahyu Arya menceriterakan tentang sebuah buku yang menginspirasinya untuk berkecimpung di dunia kepenulisan.

“Bumi manusia karya Pramoedya Ananta Toer, sudah menyadarkan saya, bahwa menulis bisa menggerakkan seseorang dan mengubah sesuatu karena tulisan,” ungkap jurnalis senior Radar Banten itu.
Ia juga menceriterakan kisah masa kecilnya yang pernah menyelinap masuk warung temannya hanya sekedar untuk mengambil kertas koran dan majalah yang ada di.sana.

“Biasanya ada kertas bacaan yang digunakan untuk bungkus-bungkus bawang atau makanan lainnya, saya baca itu waktu kecil,” terangnya.

Ia juga menjelaskan bagaimana prosesnya dalam menulis dan masuk ke dunia jurnalistik. “Awalnya belum biasa, tapi karena sudah ada bahan waktu membaca memudahkan dalam proses penulisannya,” tuturnya.

Menurutnya membaca dan menulis merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, sehingga kedua proses itu harus dilakukan. Buku yang sudah ia terbitkan yaitu Sebuah Pintu yang Terbuka Kumpulan Esay Wahyu Arya. (Hamzah Sutisna)



