Refleksi Hafis Azhari tentang tanggung jawab penulis, sejarah Indonesia, dan pentingnya rendah hati dalam berkarya sastra dan menyuarakan kebenaran.
Esai: Penulis Harus Rendah Hati

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Refleksi Hafis Azhari tentang tanggung jawab penulis, sejarah Indonesia, dan pentingnya rendah hati dalam berkarya sastra dan menyuarakan kebenaran.

Aku pernah ikut dalam project tugas akhir semester, disuruh membuat film. Kami membentuk sebuah kelompok. Dan aku menjadi penulis naskahnya. Proeses yang dibutuhkan sekitar 6 bulan untuk melahirkan sebuah cerita. Karena kami mendiskusian bersama dosen dari awal, menentukan 3D karakternya, menentukan dialognya menggunakan bahasa apa, lalu meriset di online, meriset di lapangan dengan cara memawancarai masyarakat, dll.

Saya memiliki mimpi agar Flores Timur juga dapat memiliki penulis cerita anak yang produktif.

Dengan menulis, kita bisa meninggalkan jejak abadi atau, setidaknya, memiliki umur yang lebih panjang daripada batas usia kita.

Jalur Padang-Padangpanjang-Bukittinggi sering longsor. Tapi penulis terus berlahiran. Seperti Muhammad Subhan, yang selain penulis juga aktif menyiapkan pembaca dan penulis di masa depan.

Sumatera Utara gudang penulis, tapi Rantauprapat tidak diperhitungkan. Di era digital ini mulai bertumbuhan komunitas sastra. Arie Siregar termasuk penggeraknya dengan Forum Penulis Labuhanbatu.

Telah lahir seorang penulis dari Pandeglang, yaitu MN Fazri. Dia mulai menulis puisi. Latar belakangnya sebagai jurnalis kampus, membawanya ke Rumah Dunia.

Bandung juga gudang penulis. Degnan banyaknya koran dan komunitas sastra, iklim menulis terbangun. Topik Mulyana adalah contohnya.

Ranah Minang tidak pernah kehabisan penulis. Terus bermunculan. Tak ada habis-habisnya. Kali ini Denni Meilizon dari Pasaman Barat.

Wahyu menjelaskan bagaimana prosesnya dalam menulis dan masuk ke dunia jurnalistik. “Awalnya belum biasa, tapi karena sudah ada bahan waktu membaca memudahkan dalam proses penulisannya,” tuturnya

Tentu kami bertiga harus berterima kasih kepada Tias Tatanka si putri Solo, karena mampu mengerem naluri petualanganku. Saya menikah dengan Tias 1996.

Tadi pagi hubby pengin kopi, jadi kuseduhkan kopi dengan moka pot. Rada lama karena aku nyari kertas penyaringnya.

Bapak dan Emak Menyuruhku Membaca agar Aku Tidak jadi Beban Masyarakat di Masa Depan

Penulis dan Ruang Kerja Penuh Buku

Gong Smash: Gol A Gong Awalnya Atlit, Kini Penulis

Ikapi Banten sebagai bagian dari pelaku subsektor Ekonomi kreatif bidang penerbitan, berkomitmen untuk terus menumbuhkan ekosistem perbukuan khususnya di Banten. Salah satunya dengan menyelenggarakan UJI …