Persoalan silaturahmi ini memang dilematis karena amanah saya sebagai Duta Baca Indonesia mengharuskan saya pergi ke luar Banten, bahkan ke luar Jawa seehingga silaturahmi saya kurang intens di kampung halaman. Paling di tempat saya tinggal – Komplek Hegar Alam Kota Serang – saat salat Jum’at, saya paksakan di masjid komplek.

Saya ingat ketika pertama kali menempati rumah seluas 200 meter persegi di sini pada 1998. Saya dan Tias mengetuki pintu rumah satu persatu. Mengenalkan diri karena kami adalah warga paling muda. Saya aktif di DKM masjid dan selalu manut setiap ada keputusan dari RT/RW. Saya tidak ingin dianggap sombong. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” Pada surat An-Nisa ayat 36 disebutkan tentang pentingnya bersilaturahmi.

Kemudian silaturahmi dengan warga kampung Ciloang yang bisa dianggap penduduk asli – kami pendatang. Saya dan isteri membangun Rumah Dunia – mengajak anak-anak kampung bergembira lewat cerita, menggambar, dan bernyanyi. Tentu kue-kue dihidangkan sebagai bumbu penyedap.


Semakin ke sini- 1996 hingga 2008 saya bekerja di RCTI – saya semakin sibuk. Selain sebagai karyawan di RCTI, saya juga pegiat literasi dengan praktik baiknya di Rumah Dunia. Saya jadi mentor menulis di seluruh kota Indonesia sehingga silaturahmi dengan tetangga di komplek dan kampung jadi kurang intens.

Saya tahu dengan silaturahmi akan dilapangkan rezekinya, serta dipanjangkan umurnya. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh HR. Bukhari dan Muslim, “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahmi.”



Silaturahmi saya sekarang justru ke luar rumah, ke luar kampung halaman, ke luar kota Serang, ke luar Provinsi Banten, terus menjelajah ke kota-kota di Indonesia mengampanyekan “Membaca Itu Sehat, Menulis Itu Hebat”. Semoga dengan silaturahmi ini membawa manfaat bagi kita semua. Semoga juga di 2025, saya kembali mengatur waktu agar bisa siaturahmi lebih intens dengan warga komplek dan warga kampung.
GG



