Pada 2010-2015, saya diamanahi jadi Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat. Saya sempatkan di sela waktu luang menulis puisi. Saya sempat riset 50 hari dari Sabang hingga Lampug pada April-Mei 2013. Lahirlah buku antologi puisi Air Mata Kopi (Gramedia, 2014) dan masuk 10 besar Hari Puisi Indonesia 2014.
Kemudian pada 2015-2017 saya menulis novel Bulan Bulat Perak, interteks dari trilogi Ronggeng Dukung Paruk (Ahmad Tohari) dan tetralogi Buru Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer). Saya membaca sekitar 40 buku. Setting lokasi Banten 1900 hingga 2000 saat Banten jadi provinsi. Sudah selesai 18 bab, draft pertama. Di dalamnya ada peresmian stasiun kereta api di Rangkasbitung, HOS Tjokroaminto melakukan orasi di Menes, Sarikat Islam Putih-Merah, pemberontakan 1926 hingga Banten jadi provinsi.

Saya juga menulis buku prosa liris Jawara Terakhir, yang terpengaruh Pengakuan Pariyem Linus Suryadi AG. Sudah selesai dalam 5 bab, tinggal menyelesaikan bab 4 tentang poligami. Rencananya saya akan mondok di sebuah padepokan dimana kiyai sekaligus jawaranya poligami.
Terakhir saya menulis novel Orakadut si Gila dari Kota Golokali yang saya niatkan novel bergaya filsafat ala Iwan Simatupang. Tapi tidak sampai, karena sulit untuk fokus disela-sela mengelola Rumah Dunia, menulis skenario TV, dan ke sana-sini jadi mentor menulis atau narasumber seminar literasi.

Kemudian datanglah malapetaka itu. Saya sekeluarga mengisi liburan pada 2017 dengan kegiatan Gempa Literasi Jawa. Putra kedua kami – Gabriel, yang saat itu masih SMA di Abu Dhabi pulang liburan. Minus Teteh Bela yang sedang kuliah s1 di Sun Yat Sen University, Ghuangzhou, Tiongkok. Saya, menyetir mobil Sigra, Tias, Gabriel, Jordy, dan Natasa menyusuri bumi Jawa dan mampir di kota-kota mengadakan pelatihan menulis, mmbaca puisi, dan seminar literasi keluarga.

Apa malapetaka itu? Sepulang dari keliling Jawa, PC saya terkena virus. Ribuan naskah sejak awal karir saya – relawan Rumah Dunia yang mengetik ulang – ludes musnah. Skenario TV, esai, puisi, 3 draft travel novel yang sudah di-ACC penerbit, temasuk Bulan Bulat Perak, Jawara Terakhir, dan Orakadut si Gila dari Kota Golokali. Ludes bikin perut mules.

Beberapa pakar komputer datang ke rumah. Tidak bisa diperbaiki lagi. Itu PC memang jadul. Kebodohan saya, ribuan file itu tidak saya selamatkan ke hardisk eksternal. Sebetulnya sepanjang perjalanan keliling Jawa, saya dan Tias sudah sepakat bahwa pulang nanti akan mengamankan naskahnaskah penting saya. Langit seolah runtuh. Setiap saya menghadapi laptop, beku otak saya. Tak mampu menuliskannya lagi.
Di tahun 2025, saya ingin menghimpun kekuatan dengan memulai membaca lagi ke-40 buku referensi itu. Riset lapangan lagi mulai dari Lebak, Pandeglang, Menes, dan Labuan. Semoga di sela-sela kesibukan sebagai Duta Baca Indonesia hingga Desember 2025, segalanya dimudahkan.



