Oleh: Naufal Nabilludin
Sampai saat ini, aku belum sanggup menulis sebuah obituari panjang untuk Bang Presiden Abdul Salam. Begitu aku menyimpan kontaknya dulu, ketika pertama kali menjadi relawan baru di Rumah Dunia. Nama itu masih ada di ponselku, “Bang Presiden Abdul Salam,” seperti sebuah gelar kehormatan yang diam-diam membuatku tersenyum setiap kali melihatnya.
Namun, meski aku belum bisa menuangkan seluruh kenanganku dalam bentuk obituari yang layak, ada satu momen sederhana yang terus muncul di ingatanku. Satu kenangan kecil yang kembali menyapa saat kami sedang menyiapkan acara Detik Akhir, Detik Awal Rumah Dunia 2024— 31 Desember 2024 lalu satu hari setelah Bang Salam meninggalkan kami.

Yaitu, tentang merebus jagung, pisang, dan kacang.

Aku lupa kapan tepatnya pertama kali melihat Bang Salam merebus makanan-makanan itu. Tapi yang aku ingat, Bang Salam selalu melakukannya dengan cara yang begitu khas. Di antara RB3 dan Pendopo Rumah Dunia, ia menyusun bata merah seadanya, mengatur potongan kayu bakar, lalu perlahan merebus jagung, pisang, atau kacang dalam panci kecil yang tidak pernah terlihat baru.
Aku masih bisa membayangkan wajahnya yang penuh kesabaran saat mengipasi api, dan asap dari kayu bakar yang membuat matanya merah. Ada sesuatu yang berbeda ketika Bang Salam merebus makanan, ia tidak sekadar merebus, tapi juga berbagi cerita, inspirasi dan pengalaman hidupnya ke orang yang menemaninya.
Dan memori itu tiba-tiba muncul lagi sore itu, 31 Desember 2024. Aku diminta untuk menyalakan api untuk merebus jagung, pisang, dan kacang, seperti yang biasa dilakukan Bang Salam. Tapi kali ini, tidak ada Bang Salam.
Aku mencoba menyalakan api beberapa kali. Korek menyala, asap mengepul, tapi nyala itu tidak mau bertahan lama. Aku meniupnya, menambahkan kayu kecil, menunggu, mencoba lagi. Tapi tetap saja, api itu tidak mau menyala.
Akhirnya aku menyerahkan tugas itu kepada Dodom, relawan baru Rumah Dunia. “Dom, tolong lanjutkan ini, ya,” kataku sambil berdiri.

Aku tidak sanggup. Aku belum siap untuk merebus jagung, pisang, dan kacang dengan kenangan tentang Bang Salam yang terus bergema dalam pikiranku. Aku bergegas pergi, berusaha menyibukkan diri dengan tugas lain—tugas apa saja, selama itu bisa mengalihkan pikiranku dari rasa kehilangan.
Namun, meski aku tidak melanjutkan menyalakan api, aku tahu kenangan itu akan terus hidup. Setiap kali aku melihat jagung, pisang, atau kacang yang direbus di atas kayu bakar, aku akan teringat Bang Salam—dengan gayanya yang khas dan mengajarkan hal-hal besar melalui hal-hal kecil.

Saat jagung, pisang, dan kacang mulai matang dan dihidangkan untuk peserta yang hadir, aku tidak bisa menahan senyum kecil yang hadir di wajahku. Entah bagaimana, di malam itu, aku merasa Bang Salam hadir.
Bang Salam, sampai saat ini aku belum sanggup menulis obituari panjang. Tapi mungkin, jagung, pisang, dan kacang yang direbus ini adalah obituari sederhanaku untukmu. Terima kasih, Bang. Bang Salam sudah mengajarkan banyak hal. Maaf juga kalau selama jadi relawan belum sepenuhnya mampu jadi seperti yang Bang Salam harapkan.



