Jika Esok (Lomba) SIBI dan GLN Tiada

Oleh Bambang Trim

Efisiensi membendung literasi tampaknya mungkin terjadi. Tiga lembaga yang meriuhkan jagat penulisan dan penerbitan, terutama buku anak, dalam beberapa tahun ini mungkin harus tiarap menyelenggarakan kegiatan lomba atau sayembara penulisan berhadiah rupiah yang lumayan nyata.

Tiga lembaga itu adalah Pusat Perbukuan (SIBI – Sistem Informasi Perbukuan Indonesia), Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (GLN – Gerakan Literasi Nasional dan buku berbahasa daerah), dan Badan Riset Inovasi Nasional (Akuisisi Pengetahuan Lokal).

Minggu lalu saya dihubungi Penerbit BRIN untuk mengonfirmasi naskah saya yang lolos tahap I Program Akuisisi Pengetahuan Lokal. Dua judul harus saya tuntaskan Februari ini.

BRIN yang juga mengakuisisi buku anak, terkena imbas efesiensi. Meskipun begitu, program akuisisi tetap diluncurkan beberapa waktu lalu dan tetap ada—ini membuat lega. Jumlah judulnya saja yang akan dikurangi dari target sebelumnya 300 judul.

Saya baru rapat kembali dengan Pusat Perbukuan yang mengelola SIBI, Februari ini. Urusannya tentang pengesahan peraturan menteri soal pengawasan perbukuan. Dari situ saya dengar juga rencana efisiensi. Akankah kurasi SIBI diteruskan, termasuk pengembangan dan penilaian buku teks dan nonteks?

Mama Irma Susilowati yang lolos kurasi SIBI tahun lalu, masih berproses menunggu bukunya terbit. Kami di Penprin masih menyisakan pekerjaan mengolah buku dwibahasa dari Kantor Bahasa Kepri.

Badan Bahasa dengan kepemimpinan baru yang selalu meriah dengan lomba GLN—saya sendiri tidak pernah mengikutinya, hanya sempat menjadi juri 2019—juga pasti menimbang-nimbang apakah diadakan tahun ini atau tidak. Padahal, sayembara ini menjadi harapan penumbuhan semangat menulis, mendesain, dan mengilustrasi buku anak-remaja yang boleh dibilang dahsyat.

Terbilang dahsyat karena dana yang digelontorkan tak seberapa itu mampu menghidupkan UMKM literasi, menjadi kebanggaan diri dan keluarga penulis dan ilustrator, membuat mereka yang belum pernah menginjakkan kakinya di Ibu Kota atau tinggal sementara di hotel bintang lima merasakan penghargaan itu, dan menyebabkan negara mampu mengakuisisi buku-buku bermutu.

Winter is coming, semoga tidak membekukan semangat berliterasi karena campur tangan dan turun tangan pemerintah itu mutlak diperlukan dalam program buku bergizi gratis.

Para literator itu bisa saja tetap bertahan tanpa merepotkan pemerintah, tetapi apakah sedemikian tega?

Jangan-jangan para penulis buku dan ilustrator buku tergerak juga untuk kabur aja dulu dengan menitipkan karya-karyanya di negara lain. Jika (lomba) SIBI dan GLN esok tiada, mereka tetap menantikannya lusa, tulat, tubin, tungging, dan cekelong.

Memori buku-buku itu tetap membekas di benak mereka.

Namun, ini mungkin sekadar omon-omon kekhawatiran saja. Semoga hanya mimpi, dan besok kita bangun tidur pagi hari, pengumuman (lomba) itu sudah ada lagi.

*) Direktur LSP Penulis & Editor Profesional | Pendiri Institut Penulis Pro Indonesia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==