Setelah selesai KKM, tiga hari kemudian kita berkumpul lagi. Lalu, cus hiburan ke Bogor dan Bandung selama dua malam dengan menyewa vila.


Di peristiwa yang lain. Saya sering menghadapi mahasiswa yang akan menyewa gedung Rumah Dunia. Setiap kali mereka akan menyewa selalu mengatakan, saya mahasiswa tidak punya uang. Kata-kata itulah yang sering menjadi senjata, akhirnya kami banyak mengalah seperti sikap si ibu yang saya ceritakan tadi. Tapi, seharusnya mental miskin yang ada pada mahasiswa itu pelan-pelan dikubur atau dibuang. Sudah tidak relevan.

Zaman dulu, mengatakan mahasiswa itu miskin bisa jadi, dan ada benarnya. Di zaman saya saja, saya sering setiap kuliah tidak makan. Tidak jajan bahkan pulang pergi hanya bisa naik angkot, jalan kaki.

Sekarang, sebagain besar mahasiswa memiliki motor bahkan membawa mobil. Mahasiswa memiliki smartphone. Pemerintah mengucurkan banyak beasiswa untuk orang yang mau kuliah. Tapi, selalu menjual nama mahasiswa dengan kemiskinan.

Ya, dari peristiwa kecil yang terlihat dan terasa seperti tidak memiliki dampak, ternyata besar pengaruhnya untuk keberlangsungan bangsa ini. Saya berkeyakinan rusaknya bangsa ini dimulai dari mental miskin para mahasiswanya.
Kita bisa bayangkan, jika mahasiswa yang memiliki mental miskin ini lulus lalu duduk di pemerintahan, duduk di kursi kebijakan. Duduk menjadi pemimpin kita, maka mental miskin yang dibawa dari kampus sudah pasti akan menjadi karakter di setiap kebijakannya.(*/Foto-foto hanya ilustrasi)





Membaca tulisan ini saya bertanya-tanya. Apakah betul mahasiswa kita (Banten) berlaku demikian? Bahasa ‘kita’ terlalu di generalisasi. Barangkali itu hanya teman penulisnya saja. Tidak semua mahasiswa berlaku demikian. Artinya tulisan ini cacat dalam judul. Seolah-olah semua mahasiswa yang ada di Banten berlaku demikian. Sependek yang saya ketahui khususnya temen-temen saya—tidak punya etika demikian. Tapi di sisi lain, apa salahnya dengan menawar? Kalau harganya murah ditawar itu boleh dikatakan salah. Tapi kalau mahal ditawar sah-sah saja. Terkait kasus penulis esai ini—saya tidak paham konteks. Yang jelas menawar adalah kebudayaan kita. Dan tidak boleh ada penghakiman kepada semuanya.
Saya jadi teringat cerita Musa yang diganggu oleh semut dan Musa ingin membakar sarang semutnya. Tapi Tuhan tidak berkehendak karena yang salah satu—tidak musti menyalahkan semuanya. Demikian.