Oleh Abdul Salam HS
Miskin, tidak selalu identik dengan tidak memiliki harta benda, tapi juga bisa berhubungan erat dengan mentalitas. Berhubungan dengan kejiwaan seseorang. Lebih bahayanya lagi dan lebih banyak sekarang ini yang terjadi, mahasiswa memiliki uang, tapi mentalitasnya selalu miskin.





Membaca tulisan ini saya bertanya-tanya. Apakah betul mahasiswa kita (Banten) berlaku demikian? Bahasa ‘kita’ terlalu di generalisasi. Barangkali itu hanya teman penulisnya saja. Tidak semua mahasiswa berlaku demikian. Artinya tulisan ini cacat dalam judul. Seolah-olah semua mahasiswa yang ada di Banten berlaku demikian. Sependek yang saya ketahui khususnya temen-temen saya—tidak punya etika demikian. Tapi di sisi lain, apa salahnya dengan menawar? Kalau harganya murah ditawar itu boleh dikatakan salah. Tapi kalau mahal ditawar sah-sah saja. Terkait kasus penulis esai ini—saya tidak paham konteks. Yang jelas menawar adalah kebudayaan kita. Dan tidak boleh ada penghakiman kepada semuanya.
Saya jadi teringat cerita Musa yang diganggu oleh semut dan Musa ingin membakar sarang semutnya. Tapi Tuhan tidak berkehendak karena yang salah satu—tidak musti menyalahkan semuanya. Demikian.