Saya ingin bercerita, beberapa tahun lalu saya mengikuti KKM (Kuliah Kerja Mahasiswa). Saya tergabung dalam 17 mahasiswa dari semua jurusan. Setiap mahasiswa harus membayar uang iuran sebesar sembilan ratus ribu rupiah plus tiga liter beras untuk kebutuhan selama satu bulan melakukan pengabdian.

Saya, tidak keberatan harus membayar sembilan ratus ribu rupiah. Walaupun, di kelompok lain bisa lebih kecil. Ada yang iuran tujuh ratus ribu, bahkan ada yang empat ratus ribu rupiah per orang. Dari 17 orang, terkumpullah uang 15 juta lebih. Tapi, ketika menyewa rumah (baca: basecamp selama satu bulan). Ketika melakukan transaksi dengan si ibu, pemilik rumah. Salah satu perwakilan dari kelompok saya menawar harga sewa rumah serendah-rendahnya. Teman saya itu memiliki mental miskin. Parah.

“Harga sewanya berapa, Bu?”
“Satu juta.”
“Mahal banget, Bu. Kita kan mahasiswa, Bu.”
“Dari kampus lain. Tahun kemarin segitu. “
“Tujuh ratus, ya, Bu? Kita nggak ada uang lagi.”
“Ya, udah delapan ratus deh.”
“Nggak bisa kurang lagi, Bu?”

Mendengar percakapan perwakilan kelompok saya dengan pihak pemilik rumah, saya merasa geram sekali gugus sedih. Setelah pemilik rumah itu pergi, saya bertanya ke teman saya. “Kenapa harus menawar? Uangnya juga ada.”

“Lam, uang iuran itu tidak hanya untuk kebutuhan sewa rumah, tapi juga untuk makan, buat bikin sweater kelompok, buat kegiatan. Syukur-syukur setelah selesai KKM, kita bisa jalan-jalan ke luar kota.”
“Lah, itu kan bisa kita iuran lagi. Kenapa hal-hal yang sifatnya atribut justru itu yang diutamakan?”

Benar saja, selama menjalankan KKM, saya mengamati sebisa mungkin uang iuran itu disimpan. Beberapa kegiatan lebih banyak mencari bantuan atau sponsor. Kegiatan yang digelar juga sebisa mungkin memberikan hadiah seminimal mungkin ke anak-anak.



Membaca tulisan ini saya bertanya-tanya. Apakah betul mahasiswa kita (Banten) berlaku demikian? Bahasa ‘kita’ terlalu di generalisasi. Barangkali itu hanya teman penulisnya saja. Tidak semua mahasiswa berlaku demikian. Artinya tulisan ini cacat dalam judul. Seolah-olah semua mahasiswa yang ada di Banten berlaku demikian. Sependek yang saya ketahui khususnya temen-temen saya—tidak punya etika demikian. Tapi di sisi lain, apa salahnya dengan menawar? Kalau harganya murah ditawar itu boleh dikatakan salah. Tapi kalau mahal ditawar sah-sah saja. Terkait kasus penulis esai ini—saya tidak paham konteks. Yang jelas menawar adalah kebudayaan kita. Dan tidak boleh ada penghakiman kepada semuanya.
Saya jadi teringat cerita Musa yang diganggu oleh semut dan Musa ingin membakar sarang semutnya. Tapi Tuhan tidak berkehendak karena yang salah satu—tidak musti menyalahkan semuanya. Demikian.