Ibu Suri tercengang. Cerita tentang air suci Kesultanan Banten telah turun temurun di keluarganya. Air itu diyakini memiliki kekuatan magis, mampu menyembuhkan segala penyakit dan melindungi kerajaannya.
“Tidak mungkin! Ini pasti ulah sihir jahat!” Ibu Suri berteriak, matanya melotot. “Arya, kau harus segera mencari tahu siapa yang berani mencuri air suci kita!”
Arya mengangguk, hatinya dipenuhi ketakutan. Ia tak pernah membayangkan akan menghadapi misteri yang begitu besar. Di tengah keputusasaan, ia teringat sebuah legenda lama. Konon, air suci Kesultanan Banten hanya bisa diambil oleh keturunan langsung dari Sultan Banten yang memiliki hati suci dan jiwa yang bersih.
“Ibu,” kata Arya, “mungkin saja air suci ini tidak hilang, tapi…”
“Tapi apa?” tanya Ibu Suri, penasaran.
“Mungkin saja, air suci itu hanya bisa diambil oleh orang yang benar-benar pantas menerimanya,” jawab Arya.
Ibu Suri terdiam, merenungkan ucapan Arya. Ia teringat akan seorang pemuda yang selama ini tinggal di istana, bernama Raden. Raden adalah anak yatim piatu yang diangkat oleh Ibu Suri sejak kecil. Raden memiliki sifat yang baik hati dan selalu membantu orang lain.
“Raden,” gumam Ibu Suri, “mungkin dia yang pantas menerima air suci ini.”
Ibu Suri memutuskan untuk menanyakan kepada Raden. Ia memanggil Raden ke ruang kerjanya. Raden datang dengan wajah ceria, seperti biasa.
“Raden,” kata Ibu Suri, “kau tahu tentang air suci Kesultanan Banten?”
Raden mengangguk. “Tentu saja, Ibu. Cerita itu selalu diceritakan oleh para sesepuh.” “Apakah kau percaya dengan kekuatan air suci itu?” tanya Ibu Suri.
Raden terdiam sejenak. “Saya percaya, Ibu. Tapi saya juga percaya bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada benda mati, melainkan pada hati dan jiwa manusia.”
Ibu Suri terkesima dengan jawaban Raden. Ia melihat kejujuran dan ketulusan di mata Raden.
“Raden,” kata Ibu Suri, “aku ingin kau mengambil kendi ini dan pergi ke tempat dimana air suci itu berada. Kau harus membuktikan bahwa kau layak menerimanya.”

Raden menerima kendi itu dengan penuh rasa hormat. Ia berjanji akan mencari tahu kebenarannya. Raden pergi meninggalkan istana, dengan hati yang penuh harap.
Sesampainya di tempat dimana air suci itu berada, Raden melihat sebuah mata air yang jernih mengalir. Ia mendekati mata air itu dan mencelupkan kendi ke dalamnya.
“Air suci,” gumam Raden, “aku mohon, tunjukkan padaku kebenarannya.”
Tiba-tiba, kendi itu bergetar hebat. Raden terkesima. Ia melihat air di dalam kendi mulai berputar-putar, membentuk pusaran yang semakin cepat.
“Ini… ini mustahil!” teriak Raden.
Kendi itu meledak, airnya menyembur ke udara, membentuk sebuah cahaya putih yang menyilaukan. Raden menutup matanya, tak mampu menahan silaunya cahaya itu.
Ketika cahaya itu mereda, Raden membuka matanya. Ia melihat kendi itu telah hancur berkeping-keping, namun air di dalamnya masih terisi penuh.

Raden tercengang. Ia menyadari bahwa air suci itu bukanlah sebuah benda mati, melainkan sebuah kekuatan yang hidup. Kekuatan itu hanya bisa diterima oleh orang yang memiliki hati suci dan jiwa yang bersih.
Raden kembali ke istana, dengan hati yang penuh kebahagiaan. Ia telah membuktikan bahwa ia layak menerima air suci Kesultanan Banten.
Ibu Suri menyambut Raden dengan penuh kegembiraan. Ia melihat air suci yang terisi penuh di dalam kendi.
“Raden,” kata Ibu Suri, “kau telah membuktikan bahwa kau adalah penerus sejati dari Kesultanan Banten.”
Raden tersenyum. Ia tahu bahwa air suci itu bukan hanya sebuah benda mati, melainkan sebuah simbol dari kekuatan dan kebijaksanaan yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Tulisan ini adalah hasil dari Workshop Menulis Cerpen untuk Pemuda Kota Serang yang diselenggarakan Rumah Dunia bekerjasama dengan Badan Bahasa Kemendikbudristek pada Sabtu, 12 Oktober 2024.


