Namun, bila Perpustakaan Nasional Republik Indonesia punya pertimbangan lain, bahwa Duta Baca Indonesia nanti mesti publik figur atau artis, misalnya. Maka, kami yang di daerah ini tetap akan menerima. Meski untuk level kedekatan dan spirit egaliter-nya mungkin tak sekental yang melekat pada diri Gol AGong.



Akhirnya, saya bersyukur sebab lumayan banyak meninggalkan jejak dengan Gol A Gong. Titik kota yang kami kunjungi saat safari literasi di Jawa Timur bersama Iqro Semesta dan Dinas Perpustakaan Jawa Timur bukan hanya sebagai saksi. Namun, semua itu akan abadi sebagai satu mozaik yang akan terkumpul kelak sebagai frame persahabatan yang Insya Allah langgeng hingga ke kampung abadi.

Selamat, Gol A Gong, sehat senantiasa buat Mas dan keluarga, sukses terus untuk Rumah Dunia dan tetap konsisten semangat tanpa batas dengan gerakan Gempa Literasi yang membabat habis kebodohan. (*)

*) Aditya Akbar Hakim, lahir di Gresik 26 April 1989. Hobinya membaca, lalu menulis. Ada 10 buku yang telah ia tulis dan sunting, terakhir terbit berjudul Bingkisan Cinta untuk Suami Istri. Nyantrik di Iqro Semesta, penggerak literasi Jawa Timur. Saat ini menulis tesis di UMM, berupaya agar tesisnya itu dapat terbit jadi buku populer.
*) Ini adalah cupikan dari tulisan Aditya Akbar Hakim, yang akan dibukukan oleh Perpusnas Press dengan judul “Aku dan Duta Baca”.


