Anna Lestari Anwari: Pilih Homeschooling

Ibu dari Kindy Sakha Iklila (6), Kalifa Qistina Zulfa (4) dan Khansa Tuhfah Sabiya (2) ini menambahkan, anak-anak HS memiliki lebih banyak waktu untuk mengeksplorasi hal-hal lain daripada anak-anak yang belajar di sekolah formal.

Ia melanjutkan, karena anak-anaknya belajar di rumah sebagai siswa dan dirinya sebagai guru mereka, ia bisa lebih mengerti dan mengikuti karakter anak-anaknya yang unik dan punya gaya belajar yang berbeda. “Kalau di sekolah formal yang notabene jumlah siswanya sekitar 25 hingga 30 dalam satu kelas, rasa-rasanya akan sulit bagi guru untuk mengakomodir semuanya,” ucap istri dari Muhammad Juhandi itu.

“Saya dan suami fokus ke minat dan bakat anak. Kami ingin anak-anak belajar lewat minatnya. Minat itu, kan, seperti gerbang untuk proses pembelajaran yang maksimal. Anak-anak yang belajar lewat minat, bisa tekun berjam-jam, karena itu minat dia, kesukaan dia,” ucap pemilik nama pena Yori Tanaka itu.

Ia mengaku, alasan lain mengapa ia memilih HS adalah karena belum menemukan sekolah yang cocok. “Banyak sekolah yang bagus, sih, tapi, ya, belum cocok aja. Mungkin nanti di tingkat SMP atau SMA ada sekolah yang cocok, kami akan menyekolahkan anak-anak,” ujar wanita yang gemar menulis puisi itu.

“Belum lagi mendengar cerita langsung dari guru-guru sekolah tentang sekolah yang jam belajarnya sangat lama, dari sunrise sampai sunset. Input belum tentu sama dengan output. Kita tahu, dong, berapa persen, sih, kapasitas anak-anak bisa konsentrasi belajar menyerap semua ilmu dari guru-gurunya? Kami maunya kualitas,” akunya.

Karena itu, ia ingin meng-handle sendiri pendidikan anak-anaknya. “Bukan sok bisa atau gimana, sih, dengan begitu, kami bisa tahu sedetail-detailnya tentang pendidikan anak-anak, mulai dari kecenderungan kecerdasan majemuk apa yang mereka punya, kendala apa yang menghambat mereka, dan lain-lain. Ini juga bisa jadi cara menguatkan ikatan antara kami dengan anak-anak,” katanya.

Metode yang digunakan Anna untuk belajar anak-anaknya ialah bermain, mengingat anak-anaknya masih berusia dini. Untuk silabus dan materi, tak jauh berbeda dengan pelajaran anak-anak PAUD atau TK. “Kami fokus ke capaiannya. Kami cari tahu dulu capaian apa yang harus atau biasanya dikuasi anak-anak sesuai usia mereka,” ia menjelaskan. Untuk jadwal, Anna memilih pagi dan petang hari, yaitu pukul 09.00 hingga 10.30, lalu dilanjut setelah maghrib untuk mengaji dan materi agama.

Komunitas Homeschooling Kakak

Ia merasa sulit untuk menemukan komunitas HS di daerah sekitarnya. Maka dari itu, ia membentuk Komunitas Homeschooling Kakak di rumahnya yang terletak di Kp. Kebon Kelapa RT. 03 RW. 06 no. 93 Buaranjati, Kec. Sukadiri, Kab. Tangerang, Banten. Tujuannya untuk mengajak anak-anak usia 3 hingga 6 tahun bermain berasama di rumah.

Kegiatannya biasanya dimulai dengan membaca buku dengan nyaring (read aloud) lalu ada tanya-jawab seputar buku, kemudian penguatan dengan menggambar objek yang ada di buku. Setelah itu barulah masuk ke materi seperti berhitung dengan menggunakan media belajar seperti pompom, playdough dan lain sebagainya. *

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==