Saya lahir tepatnya di kampung Benteng, Koncara, Purwakarta, tanggal 15 Agustus 1963. Kata Emak, saya lahir Jum’at subuh. “Pake dukun paraji. Kepala kamu besar. Susah keluarnya. Emak hampir saja nggak ada umur.”
Aku Lahir di Purwakarta (2)

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Saya lahir tepatnya di kampung Benteng, Koncara, Purwakarta, tanggal 15 Agustus 1963. Kata Emak, saya lahir Jum’at subuh. “Pake dukun paraji. Kepala kamu besar. Susah keluarnya. Emak hampir saja nggak ada umur.”

Aku selalu senang mengutip Multatuli, “Ya, aku bakal dibaca!” Maka aku pun menulis kisah hidupku agar orang-orang bisa bercermin dari kisahku. Ini kusadari betul, bahwa hidupku terdiri dari banyak kisah. Orang-orang sering iseng bertanya, “Jika kamu sekarang berlengan dua, apa yang akan kamu lakukan?”

Dari dulu saya selalu menggemakan: gantung koruptor. Itu sepadan dengan kejhatan yang sudah dilakukannya, yaitu menyebabkan kita jadi miskin. Apa yang dilakukannya sudah menyenangkan anak dan istrinya sekeluarga, tapi di sisi lain sudah menyengsarakan anak-istri se-Indonesia.

Jadi Timnas U17 lolos dengan sangat heroik, itu tentu ada sebab-akibatnya, yang selama ini iklimnya tidak sehat. Erick Thohir, Shin Tae-yong, naturalisasi-diaspora, itu menyuntikkan aura positif di iklim sepakbola kita. Sekarang, kita doakan saja ekosistem sepak bola Idonesia sehat, berkembang, dan maju seperti yang kita inginkan….

Quote “Aku sudah mati sebagai lelaki. Kini aku suami da ayah” ini adalah potret pergulatan batin aku sebagai seorang pria yang menyadari bahwa pernikahan dan menjadi ayah mengubah diriku secara total—bukan hanya status sosial, tapi juga cara berpikir, merasa, dan bertindak.

Teruslah berkarya. Hukum berkarya itu adalah: sesuatu yang baru, ide gila, dan berdampak ekonomi. Percayalah, jika kita bekerja keras, berpikir maju, selalu ada hal baru lahir tercipta. Itulah sebabnya kenapa: dunia milik orang-orang pemberani.

Lihat Marselino, Rizki Ridho, Egi Maulana Vikri, Witan Sulaeman, Ricky Kambuaya, Choki Caraka, Ramadan Sananta, Septian Bagaskara, Asnawi Mangkualam, bersaing keras, tidak cengeng. Mereka bisa jadi tolok ukur atau patokan bagi para boss dan pelatih klab-klab Liga 1 atau anak-anak muda Indonesia yang bermimpi membela negara bersama Timnas Sepak Bola Indonesia senior di kancah dunia! Kita nyanyikan lagu Indonesia Raya di seluruh stadion sepak bola dunia!

Terima kasih, Kang Ade. Hidangan makan siangnya di Pucuk Pare Resto yang bergelimang kemewahan. Sekali makan, rasanya lidah nagih lagi. Tak ternilai harganya ketika oksigen yang berhembus dari Gunung Karang, kami hirup hingga dada ini penuh.

Nah, jika novel yang kita tulis latar waktu tahun 2022, jika tidak menyertakan latar suasana Covid-19 rasanya aneh. Itu sebab setiap menggunakan latar waktu tahun tertentu sebaiknya kamu melakukan penelitian: ada peristiwa pentingkah di tahun itu?

Dua teknik menulis itu perlu kita coba dan kuasai. Yang pertama kita menonjolkan latar tempat saja, teknik menulis kedua memasukkan karakter tokoh di dalam latar tempat. Silakan dicoba.

Di hari yang Fitri ini, mari kita sudahi ceramah -ceramah yang mengintimidasi seperti itu. Mari kita muliakan kaum perempuan, karena mereka adalah orang-orang yang akan melahirkan anak-cucu kita. Mereka juga yang akan melahirkan calon ibu berikutnya.

Dialog yang Kontroversial dan Penuh Konflik itu penting di dalam sebuah novel agar pembaca tidak bosan. Tidak perlu kita memberi tahu (dont tell) pembaca, tapi tunjukkan (showing) saja agar pembaca bisa membangun karater si tokoh dengan imajinasinya.

Puluhan tahun kemudian, persis 1 Syawal 1446 H atau Senin 31 Maret 2025, saya mengajak Tias menikmati kuliner di Jalan Sabang. Dari hotel kami jalan kaki menyusuri gang-gang di jalan Kebon Sirih. Saya ceritakan kepada Tias tentang legenda Jalan Sabang saat menikmati makan malam bebek dengan sambel hitamnya plus martabak telor dari Bangka. Kami makan malam diiringi musik jalanan yang melantunkan lgau-lagu Peter Pan.

Sungguh luar biasa daya tarik Kota Tua Jakarta ini. Walaupun alun-alun Fatahilah tutup selama lebaran, Kota Tua tetap istimewa dan mendatangkan rezeki bagi para pedagang. Saya sebetulnya pernah membawa anak-anak ke sini sewaktu kecil. Nanti saya akan ke sini lagi, berdua saja dengan Tias, menikmati masa pacaran dulu.

Lidah menagih kuliner dengan aneka rasa. Bukannya mnaja, api memang Allah sudah memerintahkan kepada kita untuk traveling dan menikmati kuliner di surat Al-Mulk ayat 15.

Setelah puas menonton orang-orang yang bagai air bah di stasiun Manggarai, kami menuju Stasiun Kota atau Beos. Tujuannya Kota Tua. Kami menikmati suasana Kota Tua; melihat orang-orang merayakan lebaran, melihat para pedagang yang mendapatkan rezeki berlebih kara ramai pengunjung. Kami menutup norak-norakannya dengan makan siang di Babah Koffie.

Setelah salat Ied, saya semakin menyadari bahwa keempat anak kami sudah memilih jalan hidupnya. Saya dan istri selalu mendukung pilhan mereka. Kami mengucapkan selamat lebaran, mohon maaf lair dan batin, ya.