Dihadapan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Banten, Pak Imadduin Sahabat dan para pegawai BI, saya memberikan testimoni sebelum dan sesudah belajar ilmu jurnalistik.

Saya bercerita ketika pedagang kaki lima di Stadion Maulana Yusuf Serang ditertibkan oleh petugas Satpol PP dan Polisi karena Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) saat Covid-19. Saya melihat langsung raut wajah cemas dan khawatir para pedagang saat sirene dari mobil Satpol PP dan mobil Polisi nyaring terdengar seolah-olah memerintah para pedagang untuk segara mengemas barang dagangannya.

Peristiwa itu sangat menyentuh bagi saya, namun karena pada saat itu belum dibekali ilmu jurnalistik, saya membiarkan peristiwa itu menguap begitu saja tanpa dituliskan dengan metode jurnalistik. Kalau saja peristiwa itu ditulis dengan gaya feature dan mengambil sudut perjuangan mencari nafkah di era Covid-19, pasti mengandung nilai human interest yang begitu besar.

Berbeda ketika saya sudah belajar jurnalistik, peristiwa yang biasa saja, bisa digali untuk menemukan sesuatu yang menarik. Seperti kata Mas Gong “Penulis itu tidak sekadar melihat, tapi menemukan.”
Berbekal ilmu jurnalistik yang saya dapat dari Kelas Menulis Rumah Dunia. Saya kembali datang ke Stadion Maulana Yusuf untuk tidak hanya sekedar melihat, tetapi menemukan sesuatu. Tidak mudah memang, dibutuhkan kepekaan terhadap sekitar dan nalar kritis untuk menemukan sesuatu yang menarik.

Saya menemukan masalah yang kompleks di sana. Di satu sisi ada orang yang mengeluhkan tidak nyaman berolahraga di Stadion Maulana Yusuf karena banyak pedagang yang membuat kawasan stadion ramai dan banyak kendaraan. Padahal tempat itu merupakan sport center. Di sisi yang lain para pedagang yang sudah direlokasi ke tempat yang lain oleh pihak berwenang kembali lagi dengan alasan penghasilan mereka tidak sebanyak ketika berjualan di Stadion.

Untuk dapat menemukan masalah itu, saya melakukan wawancara dengan pedagang dan orang yang sedang berolahraga di sana. Wawancara dilakukan secara cover both side atau mengambil dua sudut pandang yang berbeda agar fakta yang didapat berimbang.
Melakukan kerja-kerja jurnalistik seperti itu melatih kepekaan dalam melihat peristiwa dan membuat saya kritis dalam melihat suatu persoalan. Maka tepat sekali jika Mas Gong mengatakan bahwa Jurnalistik adalah pintu masuk untuk menjadi penulis.


