Bengkel Seni Milenial: Liburan di Posko Konga

Oleh: Zaeni Boli

Mengutip kata-kata WS Rendra dalam penggalan puisi Sajak Sebatang Lisong:

“Apalah artinya berkesenian jika terlepas dari derita lingkungan.”

WS Rendra

Bengkel Seni Milenial (BSM) dari SMK Sura Dewa mencoba memaknai arti mendalam dari puisi tersebut. Alih-alih memilih liburan atau pulang ke kampung halaman, anak-anak BSM, yang dipimpin oleh ketua mereka, Miradjul Uran, memutuskan untuk mengisi waktu senggang dengan menjadi relawan di Posko Pengungsian Konga, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, pada Jumat, 13 Desember 2024.

Rombongan BSM berangkat dari Larantuka sekitar pukul 14.00 WITA dan tiba di lokasi pengungsian pada pukul 16.30 WITA. Meski dikenal sebagai kelompok seni, kali ini BSM memilih melakukan sesuatu yang berbeda—menghidupkan kesenian sebagai bentuk empati dan kepedulian, bukan sekadar hiburan.

Saat pertama kali tiba, mereka disambut dengan pemandangan para pengungsi yang mengantre untuk mendapatkan air minum. Di antara tenda-tenda pengungsian, terlihat anak-anak bermain bola bersama tentara yang berjaga, sementara asap dapur umum terus mengepul—menjadi simbol kehidupan dan semangat, meski dalam keterbatasan.

Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi anggota BSM: bahwa kepedulian adalah sikap penting di tengah apatisme yang sering terjadi dalam kehidupan hari ini.

Setelah beristirahat sejenak, anggota BSM langsung diarahkan untuk membantu di dapur umum, mempersiapkan makan malam bagi para pengungsi. Anak-anak laki-laki bertugas menyortir ikan, sementara anak-anak perempuan membantu memotong sayuran.

Melalui kegiatan ini, BSM ingin menunjukkan bahwa seni bukan hanya tentang ekspresi atau pertunjukan, tetapi juga tentang menyerap nilai-nilai kemanusiaan dan membangun rasa peduli terhadap sesama.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==