Cerita Tukang Bubur: Kunci Sukses itu Berbakti Kepada Orang Tua
Heri tidak menyangka bahwa hidupnya yang dulu bergelimang harta dengan rumah dan mobil yang nyaman kini harus menyambung hidup dengan mendorong gerobak buburnya setiap pagi.
Pelajaran hidup selama puluhan tahun itu ia ceritakan kepada saya sambil sesekali melayani pembeli.
“Kunci hidup itu ada dua, jujur sama bakti ke orang tua,” begitu ia menyimpulkan dari pelajaran hidup yang ia dapat.
Heri bercerita, tahun 1982 ia lulus sebagai sarjana di Institut Teknologi Nasional Bandung (ITENAS). Dan merantau ke Tangerang Selatan, Banten sebagai pengawas perencanaan pembangunan di salah satu perusahaan swasta.

Hidupnya enak, ekonomi bukan lagi masalah buatnya, ia hidup berkecukupan bersama istri dan anaknya di tanah rantau. Namun selama 20 tahun lebih bekerja ia lupa kepada orang tua.
“Uang saya waktu kerja di Tangsel bisa dibilang gak berseri. Tapi saya lupa berbakti ke ibu, gak kirim uang buat ibu di rumah,” ujarnya terenyuh mengingat masa lalu.
Sampai akhirnya Heri sadar, bahwa ia kurang berbakti kepada orang tua terutama ibu. Dari situ ia memutuskan untuk pensiun dan totalitas mengurus ibunya yang mulai sakit-sakitan.
“Pas saya pulang, ibu saya sampe bilang ‘anak ibu yang hilang kembali pulang’ dari situ hati saya mulai terbuka dan memutuskan buat totalitas ngurus ibu,” ungkapnya dengan nada yang sedih dan terharu.
Pria kelahiran tahun 1963 itu sadar, bahwa usia ibu nya sudah tidak muda lagi. Ia harus bolak balik rumah sakit selama kurang lebih 1 tahun sampai akhirnya ibunya tutup usia pada tahun 2012.
“Pas ibu saya masuk rumah sakit, saya bilang sama keluarga untuk masuk ke kelas VIP. Waktu itu keluarga tanya ‘dari mana uangnya’ saya jawab mobil saya masih ada, kalau uangnya gak cukup jual mobil aja,” katanya sambil mengingat masa itu.
Ia tidak ingin mengulang kesalahannya untuk kedua kalinya, ketika diberikan kesempatan untuk merawat dan berbakti kepada ibunya ia totalitas mengorbankan apa yang dia punya untuk ibunya.
“Kalau kita berbakti ke orang tua, rezeki itu gak berkurang, justru makin bertambah. Waktu saya jual mobil buat biaya rumah sakit ibu, alhamdulillah rumah sakit kebayar dan mobil malah nambah,” ungkapnya.

“Alhamdulillah, saya kebagian merawat dan ke ibu selama 1 tahun sebelum akhirnya meninggal, terharu sekaligus bersyukur dikasih kesempatan berbakti walaupun waktunya sebentar,” ujarnya
Dari ceritanya, Heri berharap orang lain dapat mengambil pelajaran dari kisah hidupnya sehingga tidak menyesal di kemudian hari.
“Saya berpesan kepada siapapun, jangan sampai lupa berbakti kepada orang tua, itu yang paling penting dalam hidup,” tutupnya.



