Perjalanan menuju Rumah Dunia
Aku bersama Aep memulai perjalanan dari Pandeglang, Majasari jam 12.00 WIB. Kami berjalan kaki dari rumah Ki Erif selaku pembina komunitas menuju halte angkot.
Tidak berselang lama angkot datang. Kami langsung naik, rutenya ke alun-alun Pandeglang, lantas disambut oleh angkot menuju Serang. Sembari perasaan tidak karuan karena mengejar dosen penguji skripsi dan tugas organisasi, untuk menghibur gundah hati ini, saya bilang ke Aep, “Ep bikin snap WA!

“Siap, Wan!” jawab Aep.
Sampai di Serang, kami berhenti di depan Carefour, kemudian berjalan menuju kampus UIN SMH Banten. Sesampainya di kampus, menuju lorong Fakultas Syariah sembari memakai sarung, kemeja dan sendal serta tas gendong. Saya meminta Aep bertukar pakaian sebab ditunggu dosen. Alhamdulilah urusan kampus akhirnya selesai.
Dilanjut, aku dan Aep berangkat menuju Rumah Dunia. Aku berkabar terlebih dahulu ke Naufal sebagai relawan yang tinggal di Rumah Dunia.

“Ada di mana, bro,” tanyaku lewat WA.
“Di rumah dunia bang” saut Naufal dalam percakapan WathsApp.

“Oke, otewe!” jawabku.
Setelah itu, kita menuju kosan Mang Aep terlebih dahulu untuk menaruh barang, kemudian berangkat ke Rumah Dunia sembari membawa proposal komunitas.
Sesampainya di Rumah Dunia, kita langsung bertemu Naufal relawan Rumah Dunia dan menyerahkan proposal dan begitu juga Naufal menyerahkan buku anak-anak yang berjumlah 28 biji. Kemudian Aep berfoto dengan Naufal sebagai tanda terima dan bukti kerjasama antara Rumah Dunia dan Komunitas Ngeupeul Kahayang.

Saya berharap, semoga ada dermawan yang memberi koleksi buku cerita baru untuk anak-anak, beserta krayon, pensil warna, ATK dan meja belajar.
Iqro!


