Saya belum jadi Duta Baca Indonesia waktu itu. Saya masih sebagai pegiat literasi di Forum Taman Bacaan Masyarakat. Saya pernah jadi Ketua Umum Forum TBM – bentukan dari Kemdikbud periode 2010-2015, sehingga sering diundang ke mana-mana sebagai nara sumber. Saya mulai banyak berkenalan dengan tokoh literasi di Papua. Ada Dayu Rifanto yang aktif dengan Gerakan Literasi Papua di Sorong. Begitu juga Safei Ricardo Desima, pengelola TBM Gapagoo di Manokwari.

Setelah ditetapkan jadi Duta Baca Indonesia periode 2021-2025 oleh Perpusnas RI, setiap bulan bisa 2 atau 3 kali ke luar kota, blusukan ke desa-desa untuk kampanye membaca dan menulis. Termasuk ke Papua; mulai dari Raja Ampat, Merauke, Jayapura. Mulailah saya mengenal Mama Solis Hanny Felle dari Rumah Baca Yoboi Sentani. Saya sudah menunjungi dia Februari 2024 lalu di danau Sentani.

Semua orang Indonesa – termasuk kita – sangat peduli dengan Gerakan Literasi Papua yang sedang tumbuh. Ada yang membantu dengan Sejuta Buku Untuk Papua. Secara pribadi juga banyak yang mengirimkan buku ke komunitas-komunitas yang ada di Papua. Inilah yang kita cemaskan dari dulu, bahwa distribusi buku tidak merata. jika kita membeli buku seharga Rp. 50 ribu, ongkos kirim ke Papua bisa Rp. 75 ribu-Rp. 100 ribu.

Kunjungan terbaru saya ke Papua pada Kamis, 29 Februari 2024 lalu. Saya jadi moderator dalam “Bincang Duta Baca Indonesia bertajuk ‘Gerakan Indonesia Membaca: Membaca itu Sehat Menulis itu Hebat” yang diselenggarakan Perpusnas RI di aula Gubernur, Papua. Saya menyoroti Gerakan Literasi Papua kepada 3 nara sumber; yaitu Michael J Yarisetouw (Duta Baca Papua), Solis Hanny Felle (Pengelola Rumah Baca Yoboi), dan Jose Alvan Ohei (penulis dan content creator Papua).

“Kondisi literasi di Papua masih jauh dari memuaskan, bahkan gedung perpustakaan daerah saja kondisinya sangat memprihatinkan sehingga tidak membuat para pengunjung nyaman dalam membaca dan meminjam buku. Padahal, ruang publik seperti perpustakaan itu sangat penting untuk menunjang minat baca warga,” ujar Duta Baca Provinsi Papua, Michael J Yarisetouw, menjawab pertanyaan saya.

Michael menambahkan, bahwa waktu membaca keluarga sangat penting dan menjadi program yang harus digalakkan. Peran orang tua sangat mempengaruhi kemampuan literasi anak. Peran keluarga juga sangat penting untuk menumbuhkan sumber daya manusia yang melek literasi di 2045 dan proses daripada penanaman budaya membaca akan cepat berhasil jika didukung lingkungan baca yang baik,” ujarnya.

Mengutip MediaIndonesia.com, hasil survei literasi Wahana Visi Indonesia (WVI) di akhir 2022 di Papua, khususnya di Kabupaten Sentani, Biak, Pegunungan Tengah, dan Asmat, menunjukkan rata-rata hanya 36,1 persen anak kelas 3 sekolah dasar (SD) di wilayah tersebut yang memiliki keterampilan membaca dengan pemahaman.

Saya melihat persoalan mendasar dari Gerakan Literasi Nasional di Papua ini lambat pertumbuhannya karena 3 hal. Pertama Kepala Dinas terkait merasa dibuang sehingga tidak memotivasi pustakawan atau stafnya untuk menelurkan ide-ide kreatif, inovatif, dan produktif. Sepanjang 3 tahun jadi Duta Baca Indonesia, saya menemukan hal itu.

Kedua, akses ke perpustakaan di Papua sulit. Perpusnas RI sudah mengantisipasinya dengan dana hibah Pojok Baca Digital berupa 3 komputer/laptop, TV monitor, 2 rak buku dan 1000 buku. Juda Dana Alokasi Khusus untuk pembangunan gedung perpustakaan sebesar Rp. 10 milyar. Kawan-kawan kita di Papua juga membangun komunitas literasi dan taman bacaan masyarakat sebagai bentuk partisipasi publik.

Ketiga, ini yang agak rumit. Sudah saya singgung di atas tentang persoalan distribusi buku tidak merata. jika kita membeli buku seharga Rp. 50 ribu, ongkos kirim ke Papua bisa Rp. 75 ribu-Rp. 100 ribu. Di Jawa, kita foya-foya membeli buku yang harga normal atau cuci gudang. Tapi teman-teman pegiat literasi di Indonesia Timur berpikir keras. Kadangkala kalau mereka ke Jawa, pulangnya membawa oleh-oleh 20 kilo buku. Saya sendiri menggelontorkan program “Hibah Buku Nusantara” dimana pengirimannya disokong Titipan Kilat dan Angkasa Pura 2.

So, kita terus dukung ya Gerakan Literasi di Papua. Langkah kecil kita, semoga bisa membantu teman-teman di Papua dalam meningkatkan kemampuan literasinya.

Berpikirlah, jangan mengemis apalagi menyerah.
Gol A Gong
Cakrawala,

