Bi Wiyas mengarahkan layar ponselnya ke hadapan semua orang. Video mulai diputar. Rekaman itu menampilkan Rey dan Mama Clara – duduk di taman, tertawa, saling menyuapi potongan buah dengan senyum mesra.
Fiksi Mini: Dinner Karya Aii Aayy

Dunia Kata, Dunia Imajinasi
Cerita Kita

Bi Wiyas mengarahkan layar ponselnya ke hadapan semua orang. Video mulai diputar. Rekaman itu menampilkan Rey dan Mama Clara – duduk di taman, tertawa, saling menyuapi potongan buah dengan senyum mesra.

Ibin adik kelasku di SMA. Kami kini bekerja di kantor yang sama, yaitu Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Atasan kami memerintahkan, agar Lawang Sewu dijauhkan dari kesan angker. Gedung ini harus jadi wadah ekspresi anak muda. Itu sebab kenapa diadakan kompetisi cosplay anime, karena anak-anak muda sangat menyukai.

Pandangan Raka berubah kosong. Pikirannya melayang ke kenangan tentang ayah dan ibunya, yang tak akan pernah bisa ia gapai lagi, namun tak akan pernah terhapus dari sanubarinya. Perlahan, Raka menyeka air matanya.

Minta menoleh ke kanan, juga ke kiri. Ia tak mengenal siapa-siapa secara pribadi. Ia menyaksikan semua wajah di barisan itu tampak berseri. Tapi, ia merasa dirinya seperti patung lilin yang dipajang tanpa narasi. Kilatan kamera menghujani wajahnya. Jepret. Jepret. Jepret.

Awang menoleh ke jam dinding. Tuk… tuk… tuk… — denting detiknya semakin keras, seperti palu mengetuk batok kepalanya. “Ini sudah keterlaluan!” suara di kepalanya terus menggedor.
Awang berdiri. “Apa katamu tadi? Sebentar?” suaranya meninggi. “Saya sudah menunggu satu jam di sini! Bersabar! Perusahaan macam apa ini?!”

Tiba-tiba aku mendengar suara erangan dari kamar ibu. Aku langsung mematikan keran air dan meninggalkan pekerjaanku untuk melihat keadaan ibu.

Pedih dengan sangat kurasa saat mengingat hidupku di sekolah ini. Tiba-tiba buliran-buliran bening mencucur dari sudut mataku.

Adela ingin bergegas pergi, tetiba ada seorang lelaki yang mendekat. Dengan jas hitam berdasi kupu-kupu, ia berjalan dengan tenang. Di tangan kananya ada buket yang berisi biskuit dan mawar merah. Lelaki itu berhenti tepat tiga langkah sebelum sampai pada Adela.

Nia terdiam. Matanya lantas tertuju pada kertas-kertas hvs bergambar yang berserakan. Diambilnya satu kertas bergambar rumah. Nia kagum: biarpun hasil menggambar tidak terlalu bagus, tetapi sudah bisa menunjukkan bahwa itu gambar rumah berharga tinggi.

Semakin mendekat, orang yang dibonceng mengacungkan parang kepada Intan. Tap ketika jarak mereka hanyadua meter saja, kedua orang itu terlihat terkejut lalu mempercepat motor dan melewatinya.

Santi meletakkan termos di rumput dan memutar kursi roda dengan hati-hati agar posisi Arman nyaman melihat gunung Kinabalu.
Risa mengabadikan peristiwa itu dengan kameranya. Dia merasakan tatapan Arman begitu dalam kepada Santi.

Akan ada 200 Buku Fiksi Mini. Satu buku ada 50 fiksi mini. Gol A Gong sedang fokus menulis. Hingga 11 Juli sudah 27 Fiksi Mini selesai ditulis. Di setiap buku antologi fiksi mini,
akan ada satu fiksi mini yang saya tulis. Ayo, bergabung. Tidak dipungut bayaran, bahka ada hadiah total Rp 10 juta bagi yang fiksi mininya masuk 10 besar.

“Bu, maaf jika saya lancang. Saya penasaran sekali dengan kotak mungil ini. Kalau boleh tahu, apa isinya? Mengapa Ibu selalu membawanya?” tanya Laras sembari mengusap lembut kotak kecil itu. Kotak itu permukaannya aus tergenggam, seakan sering diusap dalam hening.

Siang itu menjadi bukti hebat betapa kepolisian sangat mengayomi masyarakat. Memberikan edukasi terbaik bagi generasi mendatang. Bahwa bila bekerja sama dengan masyarakat, masalah kenakalan remaja bisa diatasi dengan sangat bijaksana. Tidak lupa Brigjen Yunta memberikan sedikit motivasi agar belasan anak ini tidak lagi mengulangi aksi kemarin.

Tersenyum sekali lagi, Ilung Kadras berbalik dan berjalan menuju gerbang. Dlahap Parto kembali kehilangan kata-kata, tak sanggup melakukan apa-apa, dan hanya memandangi Ilung Kadras yang aneh itu. Kedatangannya yang tiba-tiba, pembawaannya yang lain dari yang dulu diingatnya, ditambah bau busuk yang masih menusuk-nusuk hidungnya membuat Dlahap Parto tercenung sendirian.

Pak Hamid sedikit berbisik ke telinga istrinya, “Sudah lama kita nggak makan martabak manis ya, Bu?” dan dijawab dengan anggukan oleh wanita yang sedikit gemuk itu.

Aku mengambil jari-jari tangan Gagah dan menggerak-gerakkannya seperti melukis di udara. Kutunjukkan bintang-bintang yang menjadi kepala, bahu dan kaki Orion; tak lupa juga dengan pedang dan busur panahnya.