Udara pagi di halaman belakang hotel bukit pinus, kota kecil Kundasang distrik Ranau, sejuk dan menyegarkan. Arman memandang puncak megah gunung Kinabalu.
Risa berkali-kali menjepret kamera ke Arman.
Klik. Klik.
“Setelah Kerinci, Pangrango, Semeru, Rinjani, Kinabalu yang paling tenang. Mungkin karena aku sudah berdamai dengan diriku sendiri.”
Diteras hotel, supir mereka, Doni, duduk menikmati kopi bersama Santi – perawat pribadi. Santi bangkit membawa termos mendekati Arman.
“Ini, Pak Arman,” ucap Santi lembut. “Kopinya masih panas.”
Arman menerima cangkir. Mata mereka bertemu sebentar – hangat, dalam, dan tak biasa.
“Tolong, putarkan,” kata Arman kepada Santi.
Santi meletakkan termos di rumput dan memutar kursi roda dengan hati-hati agar posisi Arman nyaman melihat gunung Kinabalu.
Risa mengabadikan peristiwa itu dengan kameranya. Dia merasakan tatapan Arman begitu dalam kepada Santi.
“Lima gunung tertinggi di Asia Tenggara. Pertama gunung Hkakabo Razi di Myanmar, tingginya 5.881 meter. Kedua, gunung Puncak Jaya di di Papua, tingginya 4.884 meter, dikenal juga sebagai Carstensz Pyramid dengan salju abadinya,” Arman meneguk kopinya.
“Setelah ini kita ke Cartensz?” pancing Risa.
“Tidak. Kinabalu yang terakhir. Kita harus menata hidup kita, Risa.”
Risa kaget.
“Oke, gunung Kinabalu ini ketiga, tinggi 4095 meter. Keempat, Indonesia lagi, gunung Puncak Mandala di Papua, 4.760 meter. Terakhir, gunung Fansipan di Vietnam, tinggi 3.143 meter.”
Santi serius mendengarkan. Risa gelisah – sesekali melirik ke Doni yang asik dengan telepon selulernya di teras hotel.
Suara Risa pelan, “Santi, tolong tinggalkan kami berdua dulu, ya.”
Santi mengangguk. “Saya ke kamar ya, Pak. Berkemas. Kita ke bandara dua jam lagi. Flight ke Kuala Lumpur pukul 8 malam,” dia mengingatkan dan pergi ke hotel.
Risa berdiri di sebelah Arman, menatap gunung Kinabalu. “Sudah lama aku ingin bicara, Mas…” katanya pelan. “Aku… aku nggak bisa lagi begini.”
Arman menatapnya.
“Sudah tiga tahun, aku menemami Mas traveling ke kaki gunung. Memotret Mas…”
“Terus…?”
“Idealnya aku mengantar Mas pergi ke kantor. Menyiapkan makanan, melayani Mas di ranjang, merawat anak-anak. Kita sudah menikah lima tahun, Mas. Sejak kecelakaan tiga tahun lalu, Mas lumpuh dan Papa-Mama tewas, aku seperti hidup dalam sangkar,” napas Risa tersengal-sengal.
Arman terdiam.
“Aku ingin pisah, Mas. Aku… hamil. Ayah bayi ini…,” Risa melihat ke teras hotel, “Doni…”
Arman meletakkan cangkir di rumput. “Akhirnya…, kamu jujur juga.”
Risa mengerutkan kening.

“Aku sudah tahu. Aku menunggu kamu mengatakannya langsung.”
Tanpa Risa duga, Arman memanggil Doni.
Risa terpaku. Doni sudah berdiri di depan mereka dengan wajah menunduk.
“Don! Denger, ya! Aku titip Risa. Kamu lebih mampu membahagiakan Risa daripada aku sekarang.”
“Iya, Pak…”
“Nanti perusahaan di Malang, kalian yang pegang.”
“Terima kasih, terima kasih, Pak,” Doni menatap Risa.
“Aku juga harus jujur sama kalian,” lanjut Arman. “Aku dan Santi saling jatuh cinta.”
Risa dan Doni terbelalak.
“Dengan Santi, aku merasa hidup kembali. Bahkan, kelelakianku yang lama ‘mati’, kini hidup lagi.”
Risa tertawa getir.
“Sepulang dari Kinabalu, aku akan menceraikanmu. Kalian harus menikah. Dan aku… akan menikahi Santi.”
Di kejauhan, awan tipis menyelimuti puncak Kinabalu.
*) Rumah Dunia, 10 Juli 2025




