Acara dibuka dengan sambutan dari Kepala Sekolah TK Pembina 3 Kota Tarakan. Kemudian Dharmawati yang juga pendongeng. Seperti biasa saya mengenalkan diri sebagai Paman Gong. Perhatian anak-anak tentu terpusat pada Celemek Ajaib, karena di dalamnya ada hadiah buku dan permen lolipop.

“Ada yang namanya Tuti?” Sembarang saja saya menyeut nama. Kadang Astuti, Endang, Farhan. Cara ini sudah saya buktikan di mana-mana dan ampuh sebagai pintu gerbang komunikasi dengan mereka.

Anak-anak pasti menjawab, “Tidak ada!”
Beberapa nama saya sebutkan, kalau pas namanya sama, anak-anak riuh tertawa. Sebelum acara dimulai, biasanya saya memberi tahu kepada guru dan orang tua, agar tidak mencampuri permainan saya. Misalnya, saya sengaja menyebutkan nama mereka dengan salah, agar anak-anak sendiri yang membetulkan namanya.

Kemudian saya bernyanyi:
Permen loli cari mulut
Permen loli cari mulut
Siapa suka….

Anak-anak serempak mengangkat tangannya, “Saya….!”
Saya mengulang, “Siapa suka bantu bunda di rumah?” Ada beberapa anak mengangkat tangannya. Saya panggil mereka. Saya bimbing untuk mengenalkan diri.
“Suka bantu Bunda, ya? Bantu apa?”

Jawabnya, “Nyuci motor!”
“Ngepel!”
“Beres-beres kamar!”
“Masak!”

Apapun jawabannya, anak-anak itu saya kasih hadiah. Mereka mengambil sendiri hadiahnya di dalam Celemek Ajaib Paman Gong. Hadahnya dari Sekolah Enuma; ada permen dan beberapa buku.

Kemudian ada anak menunjuk tangan kiri saya. “Kok, tangannya hilang” Nah, itu yang saya tunggu. Kemudian saya minta zin untuk bercerita tentang tangan kiri saya. Anak-anak serius mendengarkan.

Saya bercerita, bahwa saat kecil saya sekolah di TK Al Kautsar. Saya nakal. Saya tidak mau masuk ke dalam kelas, tapi saya berlari ke luar sekolah. Di seberang jalan ada yang jualan es krim. Saya berlari tanpa menoleh kiri-kanan. Wajah anak-anak cemas, ketika saya menyeberang karena ada bunyi klakso. Dan… Saya tertabrak mobil. Tangan kiri saya bedarah.

Kata saya, “Kalau nyeberang jalan harus apa?” Anak-anak spontan menjawab, harus lihat kanan-kiri, harus hati-hati.

Setelah Dharmawati membacakan buku cerita, anak-anak mengambil hadiah dari Celemek Ajaib Paman Gong. Ada permen lolipop dan hadiah alat-alat tulis dari Sekolah Enuma Indonesia.

Saya pamitan pulang. Seperti biasa, ada anak yang datang memeluk saya. Di beberapa kota bahkan ada anak yang memeluk saya, melarang saya pulang. Di TK Pembina 3 Kota Tarakan, tanpa saya duga, ada anak perempuan lucu, mendekati saya, dan mengecup pipi saya. Kemudia si anak berlari.
Gol A Gong



