“Ya kalau akhir pekan memang begini teh, ramai pengunjung tapi belum tentu ramai yang beli, tapi ya ada saja. Apalagi dagangan kami hampir sama, yang beda paling di menu makanan saja,” ujar Bu Sri di tengah percakapan kami.
Beliau bercerita, hingga saat ini beliau belum bisa menghitung dengan tepat besarnya pendapatan dari berjualan di kawasan wisata kuliner Alun-alun Kota Serang.
“Yang penting mah iuran harian sama bulanan dan barang dagangan sudah terpenuhi,” ucapnya lagi.
Setiap harinya Bu Sri harus menyisihkan sebesar Rp15.000 untuk membayar kebutuhan air dan listrik. Selain itu, beliau juga harus menyisihkan Rp500.000 untuk biaya maintenance setiap bulan serta akan dikenai biaya tambahan sebesar Rp10.000 jika ada event khusus seperti konser. Sedangkan biaya sewanya sendiri berkisar dua belas juta rupiah untuk jangka waktu 5 tahun.

Untuk memenuhi kebutuhannya, Bu Sri juga menjajakan cimory berkeliling dengan sepeda motor di pagi hari, sementara stand yang di Alun-alun di jaga oleh rekannya.
“Sedikit bagi-bagi rejeki lah teh sama temen,” ucapnya sambil tersenyum.
Penutup percakapan dari Bu Sri mengingatkanku bahwa berbagi itu tak harus menunggu lapang, tapi bisa dilakukan kapan saja. Karena sejatinya sedekah itu berdasarkan besarnya rasa syukur.



