Seiring berjalannya waktu, kelas Caca kedatangan siswi baru, Rika. Perempuan yang lebih tua dari teman sebaya di kelas barunya. Rika sudah tiga kali tidak naik kelas karena berpindah-pindah sekolah.
“Perkenalkan saya ‘Rika’, pindahan sekolah dari luar provinsi. Terima kasih,” ucapnya, wajah tersenyum.
Kelas pun langsung dimulai setelah Rika memperkenalkan diri. Ia duduk sebangku dengan Roni—lelaki yang sudah lama menyukai Caca. Keduanya hanya beradu senyum, lalu fokus kembali untuk mendengarkan materi dari guru.

“Treng, treng, treng..,” bunyi bel tanda istirahat.
Roni mendekati bangku Caca, berdiri persis di sampingnya.
“Ca, ke kantin yuk!” ajak Roni, suara gombal.
“Maaf, gak bisa!” tolak Caca, mukanya tetap fokus membaca buku.
“Kenapa? Aku traktir, deh.”
“Gak bisa. Gue mau ngobrol sama kakak,” pinta Caca, menunjuk ke arah Rika.
Roni bingung—menggaruk kepala. Apa maksud Caca menunjuk ke arah Rika sambil bilang kakak. Rupanya Rika adalah kakaknya yang berbeda ibarat “bumi dan langit”.
*) Gambar: Gratisogarphy




