person holding a stone

“Gue udah pake batu jimat Pak Karta. Lu tenang aja, nggak bakal tembus!” katanya sambil mengeluarkan batu kecil berwarna hitam dari kantong celana dan menunjukkannya kepada yang lain. Batu itu tampak biasa saja, tapi menurut cerita, siapa pun yang memilikinya tidak bisa dilukai senjata tajam. Pak Karta, dukun terkenal di kampung, yang menjualnya dengan harga mahal. Budi merogoh tabungannya hanya untuk membuktikan keampuhan batu itu.

“Tusuk! Tusuk!” teman-teman mereka mulai bersorak. Dorongan itu membuat Rian semakin tegang. Dalam hatinya, ia ingin saja menyarungkan kembali pisau tersebut. Tapi Budi tak mau tahu. Dia terus memamerkan batu hitam itu, meyakinkan Rian bahwa dia tidak akan terluka.

“Sekali lagi gue bilang, tusuk aja!” Budi menantang, kali ini sambil merentangkan tangannya lebar-lebar.

Rian akhirnya menarik napas dalam-dalam, menguatkan diri, dan mengayunkan pisau ke arah perut Budi. Semua mata menatap tanpa berkedip, menanti apa yang akan terjadi. Saat ujung pisau itu menyentuh kulit Budi, tiba-tiba terdengar bunyi “KREEEK!”

Bukan suara pisau yang masuk ke tubuh, tapi suara… perut Budi. Pisau itu terhenti di permukaan kulitnya dan terpental seolah ada sesuatu yang menghalanginya. 

Budi mendadak melompat mundur, terkejut, tapi juga kegirangan. 

“Hah! Gue bilang juga apa! Batu ini sakti!” dia berteriak, lalu mengangkat batu itu tinggi-tinggi. Teman-teman yang lain pun bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak, sebagian lega karena eksperimen nekat ini tidak berubah jadi malapetaka.

Tapi kegembiraan itu tidak berlangsung lama.

Rian, yang masih memegang pisau, menatap tajam ke arah batu di tangan Budi. “Gue masih nggak percaya,” gumamnya. “Gue mau tes lagi, Bud. Kali ini di tangan lo.”

Budi yang mulai merasa sombong mengangkat tangan kirinya, “Ayo! Tusuk tangan gue, kalau lu berani!” 

Tanpa menunggu lebih lama, Rian menusukkan pisau ke telapak tangan Budi. Sekali lagi, pisau itu tidak berhasil menembus kulitnya. Budi hanya tertawa keras sambil mengibas-ngibaskan tangan, seperti mempermainkan Rian. “Liat kan? Gue udah kebal!”

Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Batu hitam itu, yang masih dipegang erat-erat oleh Budi, tiba-tiba **bergetar** dan meluncur jatuh ke tanah. Batu itu mulai mengeluarkan asap tipis dan warna hitamnya berubah menjadi merah menyala. Semua orang yang melihat langsung mundur ketakutan. Rian terdiam, matanya terbelalak melihat batu itu mengeluarkan suara berdesis seperti air mendidih.

“A-apa itu?” Rian tergagap. Tapi belum sempat Budi merespons, suara tawa seseorang terdengar dari kejauhan. Mereka menoleh dan melihat sosok Pak Karta muncul dari kegelapan, mendekat dengan santai sambil tersenyum misterius.

“Batu itu tidak memberi kekebalan, Nak. Itu Cuma bikin yang pegang jadi merasa percaya diri,” katanya, matanya tajam menatap Budi. “Seperti efek plasebo. Pikiranmu sendiri yang bikin lu merasa kebal, bukan batu itu.”

Rian dan teman-teman lainnya saling pandang, bingung. Budi mulai kehilangan warna wajahnya, takut kalau kekebalan yang dia rasakan hanya ilusi. “Tapi tadi pisau nggak bisa nembus, Pak!” protes Budi, suaranya gemetar.

Pak Karta hanya menggeleng. “Coba lu tusuk lagi tanpa batu itu. Gue jamin, pisau itu bakal nembus.” Dia menunduk, mengambil batu yang sudah mulai dingin di tanah, lalu mengantonginya kembali. “Sekarang, siapa yang berani mencoba?”

Semua pemuda langsung terdiam, tak satu pun berani mengangkat tangan. Perlahan, mereka sadar bahwa semua itu adalah permainan pikiran. Pak Karta tersenyum puas dan berbalik pergi. “Kebal atau tidak, Nak, semua hanya soal seberapa besar kalian percaya,” katanya sebelum menghilang di kegelapan malam.

Rian menatap Budi dengan rasa penasaran, lalu mengangkat pisau sekali lagi. “Gue tes lagi ya, Bud?”

Budi langsung mengangkat tangannya, “Nggak usah! Nggak usah! Gue percaya sama sabuk gue yang tebal ini!” 

Semua orang tertawa terbahak-bahak. Dalam ketegangan, rupanya Budi masih memakai sabuk pelangsing yang dia lupa lepas, menyelamatkannya dari tusukan pisau.

Dan malam itu, mereka semua pulang dengan satu pelajaran baru: kadang yang membuat seseorang merasa sakti bukanlah jimat atau batu mistis, tapi keberanian dan kepercayaan diri atau dalam kasus Budi, sabuk pelangsing yang ketat.

Tulisan ini adalah hasil dari Workshop Menulis Cerpen untuk Pemuda Kota Serang yang diselenggarakan Rumah Dunia bekerjasama dengan Badan Bahasa Kemendikbudristek pada Sabtu, 12 Oktober 2024.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==