Jono, Jana, Dani dan Dadang segera mengaminkan pesan tersebut.
“SIAPA YANG MEMBOCORKAN RAHASIA KITA?!” Toni berseru. Wajahnya memerah.
Ruangan yang dipenuhi dengan lukisan-lukisan langka itu hening. Sofa empuk masih diam membisu, ice sirup dan kudapan yang disediakan tak berkomentar apapun. Mereka saling melirik satu sama lain.
“Tidak ada yang membocorkan rahasia kita, tidak ada.” Jono memecah keheningan. Jana mengangguk-ngangguk mendukung saudaranya.
Toni terlihat geram. Ketua perburuan makam keramat ini sudah mewanti-wanti agar anak buahnya tidak membocorkan setiap detail rahasia yang sudah mereka rahasiakan. Siapapun yang membocorkan, mereka akan tahu apa konsekuensinya.

“Tidak perlu menatapku seperti itu, Ton. Semenjak kita menemukan makam keramat ini satu bulan lalu, aku sudah bersumpah setia kepadamu.” Dadang menjawab santay, tidak ada ketakutan dalam dirinya.
Dani hanya diam dan membisu, dia sangat paham watak Toni dan apa yang akan dilakukannya. “Terima kasih, kalian boleh pulang.” Toni tersenyum kecil.
Toni menuju ruangannya, di ruangan ini identik dengan warna hitam, ada kepala kerbau menggantung di dinding sebelah kanan. Ada meja kecil yang di atasnya terdapat guci kecil yang berisikan air dari kembang tujuh rupa. Toni duduk bersimpuh di hadapan meja tersebut, merapal mantra-mantra, seketika, muncul sebuah bisikan, “dua bersaudara itu.”
Sudah tiga tahun lebih Toni berburu makam keramat di Banten. Berpindah-pindah tempat, berganti-ganti anak buah. Ia mempercayai bahwa setiap hutan memiliki satu makam keramat yang bisa mendatangkan kekayaan. Lihatlah! Tiga tahun berlalu, Toni menjadi orang paling kaya. Dan baru kali ini, Toni menemukan bahwa ada yang berkhianat, “Bangsat! Berani sekali mereka berdua.” Toni memukul mejanya dengan keras. Ia kembali bersimpuh dengan penuh amarah yang berkecamuk dalam dada. Ya, resiko akan terbongkarnya makam keramat yang baru sebulan ditemukan itu taruhannya adalah kekayaannya selama ini. Sebagaimana yang biasa dilakukannya setiap bulan, harus ada tumbal untuk apa yang diraihnya.
Malam jumat berikutnya tiba. Lengang sekali malam ini. Bulan tetap berada gagah di atas kepala mereka. Bintang gemintang bertabur. Daun-daun tidak bergoyang. Tapi dingin seakan menusuk pakaian mereka. Toni, Dadang, dan Dani duduk bersimpuh di dekat makam, Dadang menyalakan dupa di tengah makam keramat, lalu mereka mengoyang-goyangkan kepalanya. Merapal bacaan
bacaan. Malam ini sepertinya lebih harmoni. Menjelang Subuh, mereka bersiap meninggalkan makam keramat. Toni menggali tanah dekat makam, “Ini dua jantung dan dua hati untukmu, Tuan. Terimalah persembahan kami lalu berikanlah kekayaan kepada kami dan berikanlah perlindungan kami.” Lalu menaburkan kembang tujuh rupa di atas makam.

Tulisan ini adalah hasil dari Workshop Menulis Cerpen untuk Pemuda Kota Serang yang diselenggarakan Rumah Dunia bekerjasama dengan Badan Bahasa Kemendikbudristek pada Sabtu, 12 Oktober 2024.


