Aku masih terlalu kecil untuk mengingat buah kata yang disemburkan ayah malam itu. Seingatku, ayah terlalu marah karena ibu tak menyiapkan nasi untuk anjingnya sepulang berburu. Berburu! Ya, yang kutahu, itu satu-satunya pekerjaan ayah selama hidupnya.
Ibu berladang jagung atau ubi atau padi; aku menggembalakan sapi; sementara ayah baru bangun di siang hari—mengenakan celana jin, sepatu bot, topi lebar, lalu membelakangi kami sambil menarik tali anjingnya. Ia baru akan pulang selepas magrib. Atau sebelum subuh bila ia harus berburu di luar Siak.
Biasanya, ibu akan bergegas membukakan pintu bila mendengar gonggongan anjing. Itu pertanda ayah telah kembali. Ibu akan terburu-buru mengambilkan piring, menuangkan nasi dari periuk, lalu mengurusi anjing seperti mengurus anak sendiri. Namun, malam itu tak cukup nasi. Tak ada beras untuk ditanak dan lidah ibu terlanjur kelu untuk meminjam. Sementara, kami sungguh lapar. Kami mesti mengambilnya, membawa periuk berisi nasi yang semula disiapkan untuk anjing.
Ah, betapa aku membenci anjing. Bagaimana mungkin binatang itu mesti diperhatikan makannya sementara kami kelaparan?
“Ayolah, Pak Ngah. Ini ghatib beghanyut!”

Aku menoleh, lalu mendapati keponakanku yang telah mengenakan pakaian serba putih. Ya, ghatib beghanyut. Setiap bulan Safar, kami akan berkumpul di Sungai Jantan. Kami akan naik ke atas sampan, lalu berzikir dan berdoa mengikuti arus sungai. Barangkali, doaku bisa terkabul—terhindar dari kesialan yang bertubi-tubi dan kejadian-kejadian buruk yang diakibatkan dua ekor anjing.
“Ghatib beghanyut menolak bala. Menolak segala petaka.”
Aku berdiri, lalu melangkah perlahan menuju lemari pakaian dan membiarkan keponakanku membacakan hafalannya perihal ghatib beghanyut.
“Menolak segala celaka dan menolak segala yang berbisa!”
Ketika membuka lemari pakaian, aku menyadarinya. Aku menyadari bahwa keponakanku tidak sedang menghafal. Ia hanya memberi sindiran agar aku lebih cepat berpakaian lalu bergegas ke Sungai Jantan.
“Supaya menjauh dendam kesumat. Supaya menjauh segala yang jahat. Supaya menjauh kutuk dan laknat. Supaya setan tidak mendekat. Supaya iblis tidak melekat. Supaya terkabul pinta dan niat dan supaya selamat dunia akhirat. Ah, cepatlah, Pak Ngah ….”
***

Kami tiba di Sungai Jantan ketika orang-orang mulai menyalakan obor. Sungai terang-benderang. Semuanya mengenakan pakaian serba putih; memakai peci dan ada pula yang mengenakan sorban. Barangkali, semua laki-laki Siak ada di sini, mengikuti ritual ini. Barangkali, hanya ayahku yang bertopi lebar itu yang tak tampak diri. Tadi pagi, ia masih berangkat ke Perawang untuk berburu babi.
Berburu! Bagaimana mungkin ia pergi berburu sejauh itu. Sementara, ada sekumpulan babi di ladang jagung ibuku dan mereka bisa memburunya sesuka hati! Aku masih memikirkannya ketika ada tangan yang menarik lengan bajuku, “Pak Ngah mendengarnya?”
Aku memiringkan telinga ke arah suara. Tak jauh di belakangku, dua orang sedang membicarakan pemburu tak berguna yang membiarkan kampung dan ladang jagung istrinya nyaris habis dicuri babi.
“Bininya sungguh malang. Ia harus mengurus sisa babi di siang hari, lalu mesti melayani dua ekor anjing setiap malam.”
“Mudah-mudahan, ghatib beghanyut bisa membersihkan kampung ini dari hama babi dan ludah anjing.”
“Aku sebenar iba pada bininya, tapi biniku sering jengkel pula karena perempuan itu sering datang mengutang beras.”
Aku menengadah, lalu membayangkan wajah ibu yang sedang menangis di ladang jagung. Rasanya, aku ingin berbalik dan memarahi dua laki-laki yang masih membicarakan ibu. Namun, keponakanku kembali menarik lengan bajuku.
“Pak Ngah, aku nak bersampan ….”
Aku memandang matanya, lalu melihat orang-orang yang mulai naik ke atas sampan. Sambil menuntun keponakanku, aku mulai melangkah dengan mengenang dua wajah laki-laki yang telah lancang membicarakan ibu.
***

Aku memandang lurus dan membiarkan angin menampar wajahku. Dari kapal terdepan, suara ulama mulai terdengar sebagai tanda bahwa ritual akan dimulai.
“Astaghfirullahaladzim. Astaghfirullahaladzim. Astaghfirullahaladzim, alladzi la ilaha illa huwal hayyul qoyyum wa atubu ilaih ….”
Aku memejamkan mata. Tapi tak lama, mataku kembali terbuka ketika mendengar suara-suara di kejauhan. Aku menoleh, lalu melihat orang-orang di tepian. Barangkali, mereka ingin menyaksikan sampan-sampan yang akan mengarungi Sungai Jantan.
“Laailahaillallah ….”
Aku kembali memejamkan mata dan mulai berzikir. Namun, pikirkanku tidak tertuju pada suara ulama di kapal terdepan. Tidak pula mengarah pada orang-orang yang tinggal di tepian atau pada keponakanku yang duduk khusyuk. Dalam keadaan mata yang terpejam, aku seperti sedang mencium bangkai anjing—dan perlahan-lahan, laki-laki itu seperti datang lagi lalu menendang periuk dan memaki kami satu per satu.
“Laailahaillallah. Laailahaillallah. Laailahaillallah ….”
Aku mulai memaksa memejamkan mata. Namun, bayangan anjing itu kian melekat. Laki-laki itu seperti sedang berdiri di kepalaku, menendang pikiranku dari suasana ghatib beghanyut.
“Laailahaillallah. Laailahaillallah. Laailahaillallah ….”
Suara ratib kian menggema. Sementara, sampan terus berjalan menyusuri Sungai Jantan. Namun, bayangan itu tak kunjung hilang. Suara-suara itu tak kunjung padam. Di antara ratib, aku seperti sedang mendengar makian, bunyi sepatu di atas lantai dan bunyi sepatu itu ketika menendang periuk, dan ….
“Laailahaillallah. Laailahaillallah. Laailahaillallah ….”
Aku membuka mata, memejamkannya, lalu kembali membukanya lebih lama. Suara-suara itu terdengar lebih keras di pikiranku. Seraya memandangi jalur sungai, aku mulai berbisik agar segala persoalan yang berhubungan dengan anjing, segera hanyut menuju laut. Aku ingin tidur pulas di malam hari dan enggan terbangun karena gonggongan anjing.
“Laailahaillallah. Laailahaillallah. Laailahaillallah ….”
Aku melihat cahaya seperti barisan kunang-kunang. Kian lama, cahaya itu kian menyala lalu menerangi kumpulan wajah. Di tepi sungai, mereka menanti. Mereka menggenggam obor di depan wajahnya sambil melantunkan kalimah ….
“Laailahaillallah. Laailahaillallah. Laailahaillallah!”
Kami telah mengelilingi Siak dengan menyusuri Sungai Jantan. Akan tetapi, ritual ini belumlah usai. Menjelang pulang ke rumah masing-masing, seluruh warga akan makan bersama lalu menutupnya dengan doa. Namun, aku memiliki cukup alasan untuk tidak mengikutinya.
Pertama, keponakanku sudah semestinya diantar pulang. Kedua, orang-orang sudah tentu akan membicarakan hama babi dan anjing-anjing tak berguna, dan itu dapat menyinggung perasaanku. Ketiga, aku pun mesti pulang dan bergegas mengganti pakaian, lalu menyusul ibu ke ladang jagung. Namun, setelah tiba di rumah, aku sungguh terkejut ketika membuka pintu. Aku mendapati ibu dan seekor anjing yang sedang tidur di pangkuannya.
“Ayahmu sakit,” katanya.
Aku lekas berbalik dan melangkah menuju dapur. Di atas tungku, aku menemukan periuk dan ketika membukanya, suara serak ibu kembali terdengar: “Itu untuk anjing ayahmu.”
“Aku tahu,” kataku, dan aku segera mengambil piring untuk anjing. Setelah menuangkan nasi dari periuk, aku melihat perlengkapan yang sedianya akan dibawa ibu ke ladang jagung. Aku mengambilnya lalu bergegas menuju kandang anjing di samping rumah.
Pikiranku, anjing itu akan mengibaskan ekornya seperti saat tuannya datang membawakan makan. Namun, anjing yang sedang tidur itu seketika berdiri, lalu menatapku tajam lalu menggonggongiku. Anjing ini juga membenciku; dan aku masih berusaha untuk tidak memukulinya. Usai meletakkan piring di hadapannya, aku membelakanginya dan berharap ia memakan pemberianku.
***

Aku mendengar suara azan di sela tangisan ibu. Ketika membuka pintu, ibu memandangiku. “Ayahmu mati,” katanya, dan aku kembali keluar lalu bergegas menuju kandang anjing. Di sana, aku mendapati seekor binatang yang telah kejang. Racun yang disiapkan ibu untuk membunuh babi, ternyata bekerja lebih baik untuk anjing.
Aku menengadah, lantas mendapati langit yang mulai cerah. Aku berdiri gagah. Mencoba membentangkan tangan selebar-lebarnya lalu menghirup udara sedalam-dalamnya. Tak lama, udara itu kuembuskan perlahan seraya memicingkan mata.
Ah, pagi ini setenang aliran Sungai Jantan. Setenang air yang mengalir diam-diam—menghanyutkan pikiran, menenggelamkan mata lalu mengapungkan rasa kantuk. Namun, aku tak akan tidur. Aku tak akan tidur karena mesti menguburkan dua ekor anjing hari ini. (Pekanbaru, 2023)
Catatan: Ghatib beghanyut (ratib berhanyut) adalah suatu kegiatan ratib di atas sampan dan berhanyut seiring arus sungai. Tradisi ghatib beghanyut merupakan bentuk ritual tolak bala dengan mendengungkan doa dan zikir di atas permukaan Sungai Jantan.

TENTANG PENULIS: Boni Chandra menulis cerpen di berbagai media massa baik cetak maupun online. Cerpennya yang berjudul “Orang-orang dari Jakarta” terpilih sebagai pemenang Lomba Menulis Cerpen 100TH Kolsani (2023). Pada tahun 2016, ia diundang ke festival internasional Ubud Writers and Readers Festival (UWRF). Saat ini, ia menetap di Pekanbaru dan bisa disapa di akun Instagram @bonichandra . Nomor handphone: 085278069422 .

CERPEN SABTU Cukup 500 – 1000 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu dari Ditjen Kebudayaan, Kemdikburistek RI. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.

:

