Kami melangkah menyusuri pekarangan yang didominasi pohon duku dan pohon sengon. Ranting dan daun yang menyerbak, menjadi pelindung bagi kami dari sengatan sinar matahari di pagi menjelang siang ini. Daun-daun kering yang dibiarkan mengering di atas tanah menciptakan bunyi sreeek… sreeek… ketika bergesekan dengan sandal. Apalagi di musim kemarau seperti ini. Pohon-pohon merontokkan daun-daunnya untuk mengurangi penguapan. Menyebabkan daun-daun itu semakin banyak yang berserakan di tanah.
Ketika sampai di serumpun bambu, kami harus melewati jalan berundak yang cukup curam. Kami harus berhati-hati melewatinya. Apalagi ibu membawa ember besar. Namun, itu bukan sebuah masalah. Ibu sudah terbiasa. Beliau tetap menempatkan ember besar itu di pinggang sebelah kiri. Berjalan menyamping dengan kaki kanan sebagai kaki pertama yang menuruni undak-undakan. Ketika hampir sampai di ujung, ibu mempercepat langkahnya supaya tangan kanannya segera dapat meraih pohon duku kecil yang tumbuh di gampeng[1] itu.
Aku mengikuti langkah ibu dengan lebih gesit karena tidak membawa beban yang berat. Dari tempat ini, kami dapat melihat hamparan tanah bengkok yang telah ditanami singkong. Mungkin dalam waktu satu bulan, singkong-singkong ini sudah bisa dipanen. Setelah itu, kami kembali melewati undak-undakan yang kali ini tidak begitu curam. Di ujung undak-undakan, tepatnya di sebelah kanan kami, ada sebuah bangunan langgar yang sudah tidak difungsikan. Itu adalah langgar tempat ibuku dulu mengaji. Langgar itu sudah lama tidak difungsikan karena lokasinya yang jauh dari permukiman. Dan saat ini telah dibangun langgar baru di tepi jalan dengan lokasi yang lebih strategis.

Kami kembali bertemu dengan undak-undakan yang kali ini tersusun dari batu. Dari tempat ini, dua buah belik di kanan dan kiri telah tampak. Sementara di hadapan kami ada sebuah wangan[2] yang airnya susut karena sedang musim kemarau. Dasar wangan yang biasanya tidak kelihatan pun sekarang tampak jelas.
“Lah iya kan, Nak. Kita terlambat.”
“Sedela maning nyong rampung, Lik,[3]” ujar perempuan di belik sebelah kanan. Ia sedang mandi. Meskipun berada di tempat terbuka, namun tempat ini tetap aman dan nyaman untuk mandi. Laki-laki maupun perempuan. Tua maupun muda. Tidak pernah ada berita miring antara laki-laki dan perempuan di belik ini.
Perempuan itu menutupi tubuhnya dengan daster. Ia mengambil air menggunakan ember yang dikatikan pada sebuah galah, lalu menggebyurkan air dari dalam ember itu ke tubuhnya. Mulai dari rambut hingga ujung kakinya. Termasuk bagian tubuh yang tertutup dasternya. Selesai mandi, perempuan itu mengambil handuk, lalu ia gunakan handuk itu sebagai penutup dada hingga pahanya. Daster perempuan itu dicopot, lalu ia cuci sebelum dimasukkan ke dalam baskom besar yang orang di sini menyebutnya sebagai bokor.

Selesai mandi, perempuan itu naik ke undak-undakan bersama dengan bokor yang berisi cuciannya. Ia mempersilakan aku dan ibu yang sedari tadi menunggu dari atas undak-undakan untuk turun.
“Kadingaren awan temen rika gole ngumbahi, Yu?[4]” tanya seorang perempuan lainnya di belik sebelah kiri yang sedang sibuk membilas cuciannya.
Ibu menjawab sambil menguyurkan air ke pakaian-pakaian kotornya. Tak lama berselang, Kang Tarno datang dengan membawa alat pancing lengkap dengan umpan dan wadah tempat menaruh hasil pancingannya.
“Mancing, Kang?” tanya ibu.
“Iya, Yu.”
Sebelum mandi, aku izin kepada ibu untuk melihat Kang Tarno memancing di wangan. Namun, aku hanya mengikuti laki-laki itu selama sepuluh menit. Banyak nyamuk yang mengerubungiku. Dan selama sepuluh menit itu, Kang Tarno hanya mendapatkan seekor ikan bogo berukuran satu jari. Akhirnya aku kembali ke belik.
Sementara ibu sibuk mencuci, aku langsung mengguyurkan air ke tubuh. Rasanya begitu segar hingga aku ketagihan untuk terus mengguyurkan air ke tubuh, seakan air di belik ini tidak akan bisa asat.
“Sudah bersih, Nak. Dipakai bajunya. Musim kemarau harus menghemat air.”

Musim kemarau kali ini memang cukup parah. Banyak sumur warga yang asat. Meski debit air yang memancar tidak seperti saat musim penghujan, tetapi belik ini tidak pernah asat. Maka, semakin banyak sumur warga yang asat, semakin banyak pula yang memanfaatkan sumber air dari belik ini. Baik untuk mencuci, mandi, memasak, maupun sebagai air minum. Dan setiap pagi sebelum subuh di kala musim kemarau seperti ini, bapakku selalu berangkat ke tempat ini dengan dua ember cat berukuran 25 kilogram. Mengisi ember itu penuh, lalu beliau pikul kedua ember itu dengan menggunakan pikulan dari bambu yang telah dibentuk sedemikian rupa. Tentu itu tidak mudah, karena beliau harus menuju ke tempat ini hanya dengan bermodalkan cahaya senter. Pergi seorang diri, dan bukan hanya sekali. Tetapi bisa dua hingga tiga kali perjalanan dalam sehari.
“Iya, Mak.” Aku menuruti perintah ibu. Berpakaian, lalu beranjak pulang.
“Nanti satu jam lagi balik ke sini ya, Nak! Bantu bawa cucian Emak.”
“Iya, Mak,” jawabku dengan agak ragu karena aku ingin segera bermain dengan teman-teman.
Hari Minggu adalah jadwalku bermain dengan teman-teman. Tidak memikirkan sekolah. Yang terpenting adalah aku bisa bahagia. Aku bersama tiga teman laki-laki berkumpul di depan rumah. Menghabiskan waktu dengan bermain engklek dan petak umpet. Itu adalah dua permainan yang paling sering kami mainkan. Ketika sudah mulai bosan, kami mencoba permainan lain seperti main kelereng, lompat tali, gobak sodor, dan egrang.
“Katanya kamu mau jemput emakmu di belik?”
Pertanyaan dari salah satu temanku itu membuat aku teringat dengan perintah ibu. Aku pun meninggalkan mereka bertiga. Segera berjalan setengah berlari untuk menyusul ibu di belik. Sudah lebih dari satu jam. Ibu pasti sudah menungguku lama.

Namun, sesampainya di belik, aku tercengang dengan kondisi yang ada. Tanaman singkong yang ditanam di tanah bengkok telah berganti menjadi tebu. Bangunan langgar yang memang sudah lama tidak difungsikan telah roboh dan rata dengan tanah. Bahkan sudah tidak ada lagi puing-puing peninggalannya. Wangan di sebelah belik masih mengalir, tetapi airnya semakin keruh. Kang Tarno telah pergi dari terakhir kali aku membersamainya memancing. Dan yang paling membuatku terkejut adalah belik tempat ibu mencuci dan belik di sebelahnya telah ditumbuhi rumput liar. Airnya keruh. Ada banyak kodok. Dan tempat itu menjadi kotor dan tidak terawat. Tidak ada ibu. Juga tidak ada perempuan yang menyapa ibu di belik sebelahnya.
Aku menghela napas dalam-dalam, lalu segera pergi meninggalkan belik itu. Aku segera pulang ke rumah. Memastikan jika ibu memang sudah pulang.
“Nak, tolong ambilkan baju kotor di ember kecil itu!” pinta ibu sebelum aku berkata apa-apa.
Aku mengambil baju kotor di ember kecil yang dimaksud ibu. Setelah itu, ibu langsung mengguyur baju-baju kotor itu dengan air yang keluar dari keran. Aku baru tersadar. Aku kembali menuju belik itu bukan satu jam sejak diperintah oleh ibu, melainkan satu windu setelahnya.
***

TENTANG PENULIS: Hasan Ali, penulis kelahiran Purbalingga, lulusan kampus PKN STAN. Buku-bukunya: “Salahkah Aku Terlahir Introvert?” bisa dibaca di aplikasi Google Play Books, “Berteman dengan Sepi” dan “InSTAN” bisa dibaca di aplikasi Kwikku, dan “Cinta Tah Cita” bisa dibaca di aplikasi Lentera. Cerpen-cerpennya terbit di SIP Publishing dan dicetak secara antologi bersama penulis lain. Pembaca bisa menyapa penulis melalui instagram dan tiktok @hasan.ali.penulis. WhattsApp 081215321563. Nomor rekening 1042384557 (Bank Syariah Indonesia) atas nama Rohmat Fauzi.
Gambar bersumber dari: https://pin.it/1ixKQ7IAs
[1] Tebing.
[2] Sungai kecil.
[3] Sebentar lagi saya selesai, Lik.
[4] Tumben siang banget kamu berangkat mencucinya, Yu?


