Dari jarak 5 meter ditengah gang sempit ini, aku melihatnya berdiri dengan satu tangannya disandarkan pada tembok. Aku ragu, namun ingin memastikan bahwa pria yang kulihat adalah Rian, kakakku. Rasanya aneh memanggilnya begitu, tapi itulah kenyataannya sekarang.
“Rian.” Aku mendekat dengan sosok yang kupanggil. Namun, ia belum juga berbalik. “Rian!” panggilku lagi.
Ia membuang puntung rokok di tangannya dan berbalik. Aku tersenyum, setidaknya ia masih mendengar suaraku. “Rian?” panggilku sekali lagi.
“Tasya …,” suaranya memelan.
“Ayo pulang,” aku memegang lengannya, menariknya pulang.
Rian melihatku, “untuk apa kau kesini?”
Mataku terbelalak mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut pria yang sudah tiga hari tak pulang.
“Aku kesini untuk membawamu pulang,”
“Aku tak ingin pulang ke rumah orang itu.”
Siapa yang ia katakan dengan sebutan ‘orang itu?’ Apa ia tak menerima ayahku? Setelah pernikahan ayahku dan ibunya beberapa hari yang lalu, dia belum juga menganggap ayahku sebagai ayahnya. Aku rela membayar orang untuk mencari keberadaanya, berani untuk datang ke tempat ini, itu ‘kah tanggapannya?
“Hei, itu rumah kita. Ayo pulang.” Perlahan aku menariknya dengan sisa perhatian yang kupunya. Aku bisa saja meninggalkan dia di sini karena perkataannya tadi, tetapi dia adalah orang yang beberapa bulan terakhir ini mengisi kesepianku, tentu saja ini alasan yang cukup kuat untuk aku menyeretnya pulang.
Tak ada jawaban lagi darinya. Ia menjatuhkan tubuhnya padaku. Ia sungguh tidak baik-baik saja. Tubuhnya lemah, kakinya seolah tak kuat untuk menjadi penopang. Aku merangkul erat tubuhnya dari samping dan perlahan berjalan.
Baru saja beberapa langkah, seseorang berdiri tepat di depan kami. Aku melihatnya dari kaki sampai kepala. Ia tinggi, kurus, rambutnya acak-acakan, badannya bertato, terlihat cukup berbahaya di antara yang lain. Apalagi berada di tempat seperti ini.

“Oh! Jadi kamu adik dari penipu ini!” kata orang itu.
“Iyah,” jawabku. Rian tak menjawab.
“Mau kemana kalian?” Matanya melotot ke arahku.
Aku takut. Tentu saja takut. Aku berada di tengah-tengah orang yang tidak kukenal, ditambah Rian yang saat ini tidak bisa kuandalkan jika terjadi sesuatu pada kami.
“Aku mau membawa kakakku pulang.” Meski takut, aku tak boleh terlihat lemah.
“Bayar dulu utangnya.”
Oh tidak! Apa lagi ini. Rian punya utang? Untuk apa dia mengutang?
Laki-laki itu mendekat. Dia menarik tasku dengan paksa, mencari sesuatu di dalamnya. Ia mengambil dompet dan beberapa lembaran uang di dalammya kemudian membuang tasku begitu saja.
“Ini saja tidak cukup! Bayar aku sekarang!” Lelaki itu sedikit mendorong tubuhku sehingga aku dan Rian terdorong ke belakang. Bahkan Rian hampir terlepas dari rangkulanku.
“Aku tahu caranya agar kau bisa membayarku sekarang juga.” Dengan senyuman sinis dari laki-laki itu, ia kembali mendekat dan melepaskan kepulan asap rokok dari mulutnya kearahku. Sungguh menakutkan!
“Aku akan membayarnya. Mobilku diparkir di sebelah sana. Aku akan pergi mengambilnya. Biarkan kami jalan dulu.”
Lelaki itu terlihat sedang memikirkan perkataanku. “Bagaimana jika kau kabur?” Ia menunjuk tepat di depan wajahku dengan sebatang rokok yang ada di tangannya.
“Aku pastikan tidak akan kabur. Biarkan kami berjalan dulu. Kasian kakakku sudah tidak kuat.”
“Silakan.”
Aku dengan cepat melangkah. Rian dengan tenaga sisanya kupaksa untuk berjalan dengan cepat. Setelah jauh sekitar 50 meter, aku melambaikan tangan pada orang itu. Ia terlihat bingung, tetapi lambaian itu tidak sepenuhnya untuk dia, melainkan memberikan aba-aba kepada polisi karena sebelum ke sini, aku sudah menghubungi polis terlebih dahulu.

Tanpa menunggu lama, mobilku sudah berjalan meninggalkan tempat neraka ini yang sudah diambil alih oleh Polisi. Aku melihat Rian tertidur di kursi. Ia seperti orang yang kehilangan arah. Putus asa dan tak tahu harus kemana. Masalah apa yang menyebabkan Rian seperti ini, akan kutanyakan setelah sampai rumah.
“Dimana ayah dan ibu?” Aku terkejut dengan pertanyaan Rian. Matanya masih tertutup, kepalanya masih bersandar pada kursi.
“Kau tidur saja dulu. Tidak usah berbicara.”
“Dimana ayah dan ibu?” Wajahnya memperlihatkan senyum sinis. “Ayah dan ibu kita.”
“Tentu saja ada di rumah. Mereka ingin datang, tetapi aku melarang. Aku mengatakan kau sedang berada di rumah temanmu, jadi mereka tak perlu datang, cukup aku saja.”
“Kau berbohong lagi.” Rian membuka matanya perlahan.
“Berbohong lagi?” tanyaku.
“Kau selalu berbohong di depan ayah dan ibu. Kau tak sadar, dengan caramu ini, kau sudah menyakiti orang di sekitarmu.”
Aku masih diam. Rian pun demikian. Dia memegang pelipisnya kemudian menghembuskan napas kasar. Ia masih sangat sakit. Aku tak tahu apa yang ia lakukan selama tiga hari ini yang menyebabkan kondisinya bia separah ini.
“Jika saat itu kau mengatakan yang sebenarnya ….” Rian kembali berbicara. Aku mendengar sambil tetap fokus menyetir. “Jika saja, kau mengatakan kalau Pak Rido yang merupakan calon suami ibuku adalah ayahmu, aku mungkin tak membiarkan rasa ini berlabuh. Meskipun pada akhirnya aku tahu, kau berbohong karena terlalu sayang pada ayahmu.
“Rian … tenang dulu. Kamu lagi tidak baik-baik saja”. Aku sungguh tak sanggup dengan situasi ini.
“Jika saja kau berkata yang sebenarnya, aku tak akan melihatmu dalam rumah yang sama dengan status adik kakak. Status yang tak pernah kubayangkan akan terjadi!”
Setelah mengatakan kalimat ini, Rian kembali diam. Aku harap dia benar-benar tertidur dan melupakan semuanya. Aku tak ingin ayah dan ibu tahu tentang masa lalu kami.
Rian, kita harus terima kenyataan. Semua sudah terjadi. Sudah tak bisa diubah. Batinku.

“Jika sebelum pernikahan Kau mengatakan sejujurnya untuk tidak setuju dengan pernikahan itu, kita mungkin bisa bersama, Tasya.” Rian menghembuskan napas kasar. “Aku tidak mungkin sehancur ini jika kita bisa bersama bukan sebagai kakak dan adik tiri,” Kalimat terakhir.
Hanya ada keheningan diantara kami, diiringi suara kendaraan malam yang ramai di jalanan. Aku melihatnya. Setelah pernikahan orang tua kami, ia bukan lagi Rian yang kukenal. Rian yang rajin, selalu ceria, fokus dengan kuliahnya, dan tidak ada dalam pergaulan berbahaya seperti tadi.
Aku dan Rian hanya bisa menerima kenyataan. Tak ada yang perlu disalahkan. Karena inilah takdir kita.

TENTANG PENULIS: Penulis memiliki nama lengkap Immanuela Siki Baloc, merupakan mahasiswa pertanian yang suka berimajinasi lewat tulisan. Sudah memiliki 8 buku antologi bersama tim komunitas menulis.

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu dari Ditjen Kebudayaan, Kemdikburistek RI. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.
Jika ingin melihat cerpen-cerpen yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:



