Cerpen Sabtu: Kau Akan Mati Besok

“Bagaimana kau tahu?” tanya Januar tak percaya pada petugas yang  bernama Rudin. “Dan … kenapa kau memberitahukan hal ini padaku?”

Dengan santai dan tenang Rudin menjawab, “giliranmu sudah tiba dan kau akan mati besok. Aku hanya bertugas memberitahu agar kau bersiap-siap.”

“Aku tidak percaya, mana mungkin aku mati. Aku sudah bertapa di gunung selama 40 hari. Tak makan, hanya minum air putih dan tiba-tiba kau datang untuk memberitahu kalau aku akan mati besok? Konyol.”

Rudin tak menjawab. Namun, bibirnya tersenyum tipis seraya berdiri dan pamit pulang. Sebelum kakinya menginjak teras depan, Rudin kembali mengatakan. “Aku tidak tahu persisnya, tapi besok kau akan mati. Lakukan hal yang seharusnya kau lakukan agar tak ada penyesalan di alam kubur.”

“Dasar orang sinting!”

Setelah kepergian Rudin, Januar gelisah. Kepercayaan dirinya menguap ketika Rudin keluar dari pintu rumah.  Berulang kali ia berdiri, mondar mandir di ruang tamunya dengan pikiran bahwa besok ia akan mati. Meninggalkan dunia untuk selama-lamanya dan tak akan bisa kembali lagi.

“Harusnya tidak secepat ini! Aku sudah bertapa di gunung. Harusnya aku mati 10 tahun lagi.” Pelipisnya berkeringat dingin. Januar harap-harap cemas melihat setiap sudut rumahnya. Takut kalau malaikat maut benar-benar datang ke rumahnya. “Rudin pasti bohong! Dia pasti membenciku dan hanya berniat menakut-nakutiku.”

Semasa hidupnya Januar bekerja sebagai rentenir. Ia mengutangi orang-orang yang membutuhkan uang dalam waktu singkat. Biasanya Januar memberi tempo satu bulan dengan bunga 5%. Berkat itu pula hidupnya makmur terjamin.

Gambar: Kompas Regional, Radar Beringin

Januar harus hidup.

Ia masih ingin hidup di dunia dan melihat Asri—anaknya—menikah lalu punya anak. Mana bisa Januar mati secepat ini? Ini belum waktunya.

Untuk itu ia bersiap-siap ketika langit mulai gelap. Januar akan pergi ke rumah Ki Seno, dukun kampung seberang yang terkenal telah sakti mandraguna. Januar sudah pernah ke sana sebelumnya dan hari ini ia akan datang lagi untuk meminta perpanjangan umur.

“Pak, mau kemana?” tanya Asri yang baru saja masuk rumah sepulang kerja. Ia menelisik penampilan rapi bapaknya. “Asri bawa sate kesukaan Bapak.”

“Bapak pergi dulu, ada urusan penting menyangkut nyawa harus diselesaikan,” kata Januar cepat seraya berlalu. Tak diacuhkan perkataan penuh kebingungan dari Asri.

Ketika ia sampai di rumah Ki Seno, ada 2 orang lain yang duduk di luar teras rumahnya. Satu perempuan beserta anak lelakinya dan satu lagi lelaki yang sepantaran dengan Januar. Tak ada satu kata pun keluar dari mulut mereka, namun ketegangan tergambar jelas di wajah. Terutama Januar. Lebih-lebih ketika gilirannya sudah tiba dan 2 orang lainnya sudah pulang entah kapan. Ia terlalu sibuk sendiri akibat perkataan Rudin.

“Ki Seno, ada seorang lelaki datang dan mengatakan kalau aku akan mati besok.” Januar menarik napasnya dalam-dalam. Ia mengamati ekspresi lelaki tua berjenggot putih hampir menyentuh dada. “Aku tidak bisa mati besok, ada hal lain yang harus aku urus. Aku belum selesai di dunia ini.”

Gambar: Antaranews.com, Tempo Internasional

Ki Seno mengangguk-angguk. “Aku tahu. Aku bisa mencium aroma keresahanmu sejak kau datang kemari.”

Januar menelan saliva yang berkumpul di mulutnya. “Aku takut mati. Anakku belum menikah, aku belum punya cucu.”

Ki Seno mengangguk lagi. Ia kemudian mengambil sebuah gerabah seukuran mangkuk lalu menaburkan bubuk dan seketika asap mengepul. Ki Seno menutup mata, bibirnya merapal mantra. Begitu cepat hingga ludahnya menyiprat sesekali ke wajah Januar.

Meja kecil dari kayu yang memisahkan mereka bergetar heboh. Kembang melati jatuh. Air di gelas keemasan yang dipegang Ki Seno tumbah sedikit. Aroma dupa memenuhi seisi ruangan bercat gelap dan kepala kerbau menempel dinding. Januar menutup mata, ikut mengamini doa Ki Seno.

“Nah, minum ini.”

Ki Seno menyerahkan gelas tadi kepada Januar. Isinya adalah air yang sejak bermenit-menit lalu dimantrai oleh Ki Seno. Januar menggenggamnya erat.

“Kau tidak akan mati besok. Aku sudah menambah usiamu.”

Januar seketika lega. Keresahan yang mulanya bergumul di dada kini menghilang. Januar buru-buru meminum air itu. Beberapa tetes tanpa sengaja mengalir dari sudut bibirnya segera diusap. Senyum Januar melebar.

“Terima kasih, Ki.” Januar menjabat tangan Ki Seno semangat. “Berapa yang harus aku bayar?”

Ki Seno menyodorkan sebuah kain hitam pada Januar.

“Semakin banyak kau mengisinya, semakin panjang juga umurmu.”

Januar pulang ke rumah setelah mengeluarkan uang sebesar 500 ribu rupiah. Hatinya terasa tenang. Ucapan Rudin tak lagi mengganggunya. Malam itu Januar tidur nyenyak. Ia bahkan memimpikan istrinya sedang tersenyum di surga. Mengajak untuk makan bersama dan bersendau gurau di bawah pohon dengan sungai di depannya.

Keesokan harinya ia kembali membuka toko yang tutup dua hari. Ia juga pergi ke sawah. Memetik cabai yang sudah merah, memanen timun, dan menjual ke pengepul. Orang-orang berdatangan ke rumah. Januar menaikkan bunga, tak ada pilihan lain selain setuju.  Dalam kurun waktu sebulan tabungannya menggemuk.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Januar merasa sehat. Ia percaya ucapan Ki Seno dan menganggap kalau Rudin hanyalah orang yang membencinya.

Hingga di suatu malam, sosok hitam masuk ke kamar. Tubuh tinggi dengan api menyala-nyala di rambutnya. Januar terpojok ketika ia mendekat. Sekujur tubuhnya dingin. Mulutnya terbuka, namun tak sepatah kata pun keluar. Januar ketakutan. Ia ingin lari, tapi kakinya kaku. Berangsur-angsur hawa dingin naik ke perutnya lalu ke kerongkongan. Di antara napasnya yang berantakan, samar-samar Januar mendengar suara Rudin.

“Aku sudah memberimu waktu untuk bertobat, tapi kau malah datang ke dukun bukannya datang ke Yang Kuasa. Manusia memang seharusnya takut pada kematian, jadi ia takut melakukan dosa selama hidupnya.” Suara itu bergema lebih jelas lagi. “Kematian itu pasti, tak tahu kapan datangnya, tapi bersiaplah.”

Januar tak bisa lari ketika kematian datang menyergapnya.

Siap atau tidak, ia datang. (*)

Gambar: Detik.com, Berita Sains,

TENTANG PENULIS: Elok Cahyaningtyas, seorang freelance writer yang hobinya mendengarkan lagu. Beberapa tulisannya telah terbit dalam buku antologi cetak maupun digital. Kenal lebih dekat melalui akun Instagram : @dephine__

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu dari Ditjen Kebudayaan, Kemdikburistek RI. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.

Jika ingin melihat cerpen-cerpen yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==