Malam ini, lagi-lagi ia tatap Sungai Kepoh dengan pandangan bangsat. Di sana, di sela-sela ganggang dua-tiga ekor buaya menatapnya dengan sama bangsatnya.
“Tunggulah aku, kawan!” gumamnya, sebatang rokok menyempil di sela-sela bibirnya.
Mendengar suara lelaki tua, dua-tiga buaya itu lekas menenggelamkan wajah mereka dalam-dalam ke air, lalu raib begitu saja.
“Huh! Sudah saatnya para bajingan itu mati. Laut sudah semakin kacau saja.” Lekas ia tinggalkan sungai dan segala isinya yang menanti dirinya dengan tidak sabar.
Sedang di atas sana, bulan masih melekat bulat-bulat, menyinari jalan pulang lelaki tua berkaos zebra itu. Sesungguhnya, bulan hendak menawarkan keheningan dalam kematian si lelaki kelak. Tentu disertai cahaya yang akan menyelimuti tubuh si lelaki. Dan ia–bulan–menunggu dengan teramat sabar.

***
“Cemane lah kite nek nyarik ikan, men laut kutor ngak nih. Mane banyak buaye!” Pak Ngah mengeluh di depan sekawanan pejabat daerah tentang bagaimana mau mencari ikan, jika laut kotor seperti ini. Mana banyak buaya pula!
Di samping kiri-kanan Pak Ngah, depan-belakang berjubel rekan-rekannya sesama nelayan. Mereka hendak menyuarakan kesengsaraan mereka, sedang sekawanan pejabat daerah hanya mengangguk-angguk. Mungkin di dalam kepala mereka sedang berkerumun segala rupa kebijakan dan perjanjian yang mereka teken tempo lalu. Maju kena, mundur tak mungkin. Mereka jadi serba salah.
Diam-diam lelaki tua mengamati dengan teramat tajam dalam hening yang luar biasa, serupa pengintaian kaum buaya. Lelaki itu menarik napas kuat-kuat, tangan dikepalnya. “Betul-betul sudah saatnya. Abok, tulunglah anakmu!”
Karena merasa tak dianggap, sedang beberapa waktu yang lalu sudah lima warga yang diterjang buaya saat hendak melaut, mancing, mandi laut, dan juga mukat. Tapi tetap saja tak ada tindakan apa-apa dari pemangku jabatan. Teror buaya semakin menggila. Maka segala kegilaan pun bermula.
Beramai-ramai segala lapisan masyarakat peduli ekosistem laut dan kesejahteraan nelayan menuju laut –tempat di mana segala kengerian bermula. Mereka terjang kapal-kapal yang memuat timah di dalamnya, juga ponton-ponton TI tak berijin, dengan teramat ganas. Segera api membubung, meninggalkan sesak yang banyak di dada para pengumpul biji-biji timah.
***
Hari ini laut mendadak tenang, tapi perolehan nelayan masih sama kosongnya. Dan buaya masih saja merayapi pantai. Mula-mula hanya satu buaya yang berjemur berjam-jam di tepi pantai. Menghangatkan diri usai mandi lumpur laut. Setelahnya, dua-tiga-lima-tujuh-sebelah buaya menaiki daratan, menempuh pantai dengan ugal-ugalan. Sekawanan buaya telah mengekalkan ketakutan di wajah-wajah si pelihatnya.
Merayap dengan gesit, melewati nelayan, anak-anak, pemancing, emak-emak, dan pengunjung lainnya dengan paling santuy. “Satu, dua … Satu, dua … Satu, dua!” Bagai terhipnotis orang-orang membunyikan mulutnya, lalu bergerak di belakang, mengikut-ikut tanpa takut.
Jauh, sungguh jauh mereka berjalan dan merayapi aspal panas. Tak sejenak pun di antara mereka yang berhenti untuk sekadar mengatur napas. Semuanya telah betul-betul mengukuhkan tekad. Mereka cukup nekat.
Semakin lama mereka berjalan, semakin jauh mereka merayap, semakin bertambah pula yang mengikut-ikut di belakang mereka–dengan mulut yang terus menyebut-nyebut–.
***

Dahulu, buaya adalah kerabat manusia. Ia bahkan diberi panggilan erat, Atuk–Kakek. Dahulu, manusia tak pernah benar-benar takut kepada Atuk. Mereka hidup saling berdampingan. Manusia mencari makan secukupnya, Atuk bertugas memelihara keseimbangan alam. Kadang-kadang membantu tugas-tugas manusia dengan caranya yang ajaib.
Dahulu, setelah mati orang akan menjadi buaya dan melanjutkan tugas-tugas buaya sebelumnya. Kehidupan keduanya –manusia dan buaya– ialah saling berkaitan. Mereka menjaga alam dalam-dalam, hingga kekerabatan di antara keduanya begitu erat.
Sekarang, orang-orang telah meninggalkan buaya dalam kubangan lumpur yang busuk dan hening ikan-ikan. Biji-biji timah ialah biang keserakahan yang mengakar kuat dan merambat begitu cepat, hingga beberapa generasi. Membikin keinginan mati terus bertumbuh di kepala ikan-ikan. Lalu mengacaukan keseimbangan sebelumnya.
Tengok saja pada mereka yang masih saja mengikut-ikut dengan mulut menyebut-nyebut hitungan. Mungkin mereka mendadak mengingat–teringat-ingat–janji lampau, yang dikukuhkan oleh dua karib berlainan alam. Hingga mereka rela menjejaki langkah-langkah kawanan buaya tanpa banyak tanya.
Hari mulai terik, matahari betul-betul di atas kepala. Saat inilah, mereka sampai di depan gedung milik pemangku jabatan. Buaya-buaya memencar ke segala penjuru gedung, orang-orang pun sama halnya. Bersama mereka kepung kawanan pemangku jabatan yang tak pernah ingat janji leluhur.
“Keluar! Keluar kau pengkhianat!”

Ramai-ramai memaki, mengumpat, dan lain-lainnya. Membikin tim keamanan mendadak bermunculan hingga bertruk-truk. Saling dorong, saling todong, saling gigit, saling-saling lainnya mulai terjadi. Beberapa terinjak-injak, beberapa hampir mati, sedang buaya masih kukuh menerjang, gesit meloloskan diri dari segala peluru.
Kekacauan dalam pandangan lelaki tua, ia eratkan bawaannya. Kemudian lekas-lekas membelah keramaian dengan terus melaju ke tengah, pada kedalaman kekacauan yang membikin nyeri kepala.
“Dengar! Sudah cukup segala kesakitan ini. Biar aku yang mewakili semuanya!” Lelaki tua itu menatap lekat-lekat wajah pemangku jabatan yang mendadak menampakkan diri, setelah lama bersembunyi di balik kekayaannya.
Orang-orang menatap lelaki tua dengan kebingungan yang melekat cepat-cepat di raut-raut wajah. Kawanan buaya menatap jauh-jauh dengan air mata yang mulai berjatuhan. Kawanan pemangku jabatan dan tim keamanan mendadak mengerutkan kening dan mengeratkan hening.
Dengan lekas lelaki tua mengeluarkan bawaannya. Sekantung minyak dan sekerat korek api gas. Orang-orang menahan napas, kawanan pemangku jabatan masih saja hening, tim keamanan mengerti, dan kawanan buaya serentak memalingkan tubuh.
“Atuk, terimalah anakmu!”
Hening, teramat hening. Tak ada yang mampu mengeluarkan bunyi, tak lagi ada gerakan meski hanya sekadar menarik napas. Segalanya benar-benar hening. (*)
*) Foto: montage internet

Tentang Penulis: Hardianti, S.Hum., M.Hum memiliki nama pena Dian Chandra. Lulusan S-2 arkeologi UI. Bermukim di Toboali, Bangka Selatan. Seorang tutor di PKBM GEMAR. Telah menerbitkan 9 judul buku. Mari berbincang-bincang dengannya di IG: dianchandra_files, FB: Dian Chandra, email: dianchandrafiles@gmail.com

REDAKSI CERPEN SABTU: Cukup 500 – 1000 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.


