Pagi buta, selepas mandi dan shalat Subuh, Rendi mempersiapkan barang dan tas yang akan dibawa untuk kegiatan Ospek. Ia dengan teman satu kost—Banu, begitu sibuk mengemas berbagai peralatan dan kebutuhan. Mereka harus menggunakan topi koboy, sarung tangan dan sepatu boot.
“Sudah siap semuanya?” Rendi begitu optimis.
“Aku kok pesimis, ya,” Banu menatap hampa. “Mereka pasti menganggap kita dari udik.”
“Sudah, biar aku yang ngadepin!”
Matahari terbit dengan sinar yang cerah. Rendi dan Banu bergegas jalan kaki menuju gerbang kampus. Jarak kost dengan kampus hanya 720 meter. Sepanjang jalan, banyak mahasiswa baru lain juga jalan kaki menuju arah yang sama. Mereka semua berlarian kecil karena dari balik gerbang kampus sudah terdengar bunyi sirine.
“Ayo, kalian yang jalan kaki. Jangan lelet, cepat masuk!” tegas panitia yang memakai almamater kampus.
Waktu menunjukan 07.43 WIB, dan semua mahasiswa baru telah berkumpul di area parkir kampus. Pemandangan saat itu berwarna-warni, karena setiap fakultas menggunakan baju dan peralatan khas yang berbeda-beda.
“Siapa yang pernah menjadi ketua OSIS, maju!” kata Aldi, Presiden Mahasiswa.
Rendi yang mendengar hal itu mengacungkan tangan dan langsung maju ke depan. Sontak mahasiswa baru lainnya langsung melirik dan bertepuk tangan atas keberanian Rendi maju ke depan.
“Ren, udah, nggak usah macem-macem,” Banu mengingatkan. “Kalau mereka tahu kita dari Pandeglang, pasti kita dibully,” tambahnya.
“Tenang aja,” Rendi tersenyum.

“Sebutkan nama dan asal kotamu!” pinta Aldi, memberikan microphone ke Rendi.
“Perkenalkan saya Rendi, asal dari Pandeglang.”
Tiba-tiba seorang panitia Ospek dari samping tertawa mendengar asal daerah Rendi tersebut.
“Lu, kenapa ketawa, Ron?” tanya Aldi, muka kebingungan.
“Pandeglang kan kota miskin. Kok, dia bisa masuk ke kampus ini,” jawab Roni, tertawa lepas.
“Oh, iya tah. Abang tau daerah Pandeglang?” tanya Rendi,tetap menahan emosi.
“Halah, Pandeglang kan deket Magelang, Jawa Tengah,” suara Roni yakin.
Rendi tertawa. Banu meringis. Disambung dengan semua orang yang mendengar jawaban itu langsung tertawa terbahak-bahak.
“Pandeglang itu di Provinsi Banten, Mas,” Rendi membetulkan.
“Oh, ya, Banten, Banten. Banyak santetnya kan!”
“Santet sudah tidak dipakai lagi, Mas. Sudah modern sekarang.”
“Oh, ya, pelet, pelet!”
“Peletnya sekarang pake pelet handphone!”
Roni mengangguk-angguk. Dia merasa sudah salah mem-bully orang. Ternyata mahasiswa baru dari Pandeglang, yang dianggapnya sebagai daerah tertinggal, sudah tidak lagi seperti itu.
*) Ilustrasi gambar: kolase internet

REDAKSI CERPEN MINGGU: Cukup 500 – 1000 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.



