Cerpen Sabtu: Mangalua

“Kapan keluargamu akan datang untuk melamarku, Yosef?” Almira menatap mata kekasihnya itu lekat. Wajahnya yang pucat dikerubungi rasa cemas yang begitu curam. Tentu saja, usianya sudah hampir kepala tiga. Tetapi cincin pernikahan belum juga tersemat di jari manisnya.  

“Aku masih mengumpulkan hepeng yang banyak sebelum keluarga kita bertemu untuk menentukan tanggal tonggo raja. Upacara mangalua membutuhkan dana yang tidak sedikit. Kau pasti tahu itu.” Yosef mendesah berat.

“Sudah delapan tahun kita pacaran. Aku bosan mendengar cibiran orang. Mereka bilang, kau tak serius denganku.”

“Jangan dengarkan omongan mereka.”

“Apakah ada wanita lain selain aku?”

Yosef menoleh, melemparkan tatapan seruncing anak panah. Di kedua bola matanya yang bergerak-gerak gelisah itu seperti menyemburkan pecahan api. “Apakah kau tak memercayaiku lagi?”

“Kemarin Bapa Soma bilang kepadaku, katanya puteri sulungnya, Meryana Haloni telah dijodohkan denganmu sejak masih bayi. Apakah itu benar?”

Yosef bergeming. “Tetapi aku tak mencintainya. Aku hanya mencintai kau!”

***

Pagi masih perawan. Mama Rate membaca Al-kitab di samping makam suaminya, Bapa Jakob, yang meninggal dua tahun lalu karena kanker kelenjar getah bening. Usai menyanyikan lagu-lagu pujian kegemaran almarhum ayahnya, Almira menguncupkan simpuh di bibir pusara, berbisik lembut menyelami lautan doa dengan amat khusuk.

            “Sejak Mama dan Bapa Jakob melafazkan martumpol di Gereja Huria pada pesta pernikahan kami 30 tahun yang lalu, kami bercita-cita memiliki anak serta cucu yang banyak. Kami sangat mengimpikan—di usia senja kami kelak—anak-anak kami merayakan manulangi natua-tua untuk kami. Tetapi sayang, sebelum manulangi natua-tua itu terlaksana, bapamu telah mendahului kita terbang ke surga.”

            “Mama jangan sedih. Kalau aku telah menikah dan punya anak, upacara  manulangi natua-tua itu pasti akan kami laksanakan segera,” Almira menyahut lirih.

            “Kau akan menikah dengan lelaki pilihan almarhum bapamu, kan? Dengan Benhard, bukan dengan Yosef, kan?”

            “Aku akan menikah dengan Yosef, Mama.”

            “Kau ingin mendurhakai bapamu?!” suara parau Mama Rate terdengar mengentak.  “Dia tidak akan tenang kalau tahu kau seperti ini.” Mama Rate terisak.

            “Mama, percayalah. Yosef pasti bisa membahagiakanku. Kami saling mencintai.”

Keristal hujan yang menggenang di kelopak mata Mama Rate semakin berguguran.    

***

            Petang telah menjenjang. Dan matahari masih saja jalang menyemburkan sisa teriknya yang berbisa. Almira menyapu helai-helai daun matoa kering yang berhamburan dengan sapu ijuk di halaman. Sementara Mama Rate tampak nikmat sekali mengunyah gulungan sirih di pelatar rumah bolon yang teduh.

            “Almira, lekaslah kau mandi. Malam ini keluarga Benhard akan bertandang ke rumah kita.” Mama Rate berkata dari teras rumah.

            Almira terdiam. Menghentikan aktivitas menyapunya sejenak. “Untuk apa mereka datang ke rumah kita?”

            “Untuk meminang kau.”

            Almira memintal geming. Ada segumpal kepedihan yang tiba-tiba menyumpal relung dadanya. Sesak. Sesaat, setelah Almira melangkah hingga mencapai ke bibir pintu, sebuah teriakan Bapa Jonathan meledak memecah keheningan di halaman.

            “Mama Rate … Mama Rate …!” suara Bapa Jonathan terengah-engah.

            “Ada apa, Bapa Jontahan? Apa yang terjadi?”

            “Yosef, Mama! Yosef mati ditikam Bapa Soma di halaman balai adat.”

            “Ya Tuhan, bagaimana itu bisa terjadi?”

“Menurut kabar yang berembus, Yosef telah lancang menghamili putri sulungnya, Meryana Haloni, dan tak sudi bertanggungjawab.”

Almira tersungkur di muka pintu. Berita barusan seperti dentuman halilintar yang meremukkan seluruh persendiannya.

            “Almira, kau dengar sendiri, bukan? Lelaki bejat seperti itu yang selama ini kau harap-harapkan?” Mama Rate berkata sinis. “Syukurlah sekarang dia telah mati. Jadi kau tak punya alasan lagi untuk menolak pinangan keluarga Benhard.”

Almira menatap bubungan rumah bolon dengan pandangan redup. Nanar yang terpancar dari kedua bola matanya telah meleburkan seluruh kebahagiaan dan napas hidupnya menjadi empedu yang teramat pahit. Pahit sekali. “Apakah keluarga Benhard akan tetap menerimaku jika mereka tahu bahwa saat ini aku sedang mengandung darah daging Yosef, Mama?”

“Aa … apa?!” Mama Rate lemas. Hampir kehilangan napas. Ribuan belati beracun seakan-akan telah melumatkan seluruh jantungnya. Sesaat, sempat terdengar teriakan histerisnya yang menyayat sebelum akhirnya tubuhnya yang menggigil hebat itu roboh, terguling-guling di undakan anak tangga. 

Ada darah yang mengalir. Bapa Jonathan menggoyang-goyang tubuh Mama Rate yang telah hening membeku.

***

Catatan:
Mangalua : upacara adat kawin lari
Hepeng : uang
Tonggo raja : pertemuan antar keluarga
Martumpol : janji pernikahan di depan pendeta
Manulangi natua-tua : upacara adat memberi makan orang tua
Rumah bolon : rumah adat khas Batak Toba

Ahmad Ijazi Hasbullah, kelahiran Rengat Riau, 25 Agustus. Pernah menjadi Nominator lomba menulis cerpen Kemenpora 2011, 10 besar menulis Puisi Tulis Nusantara 2013, Buku cerpen tunggalnya berjudul “Tangisan Tanah Ulayat” (2014). Saat ini menetap di Pekanbaru. Hp. 085376616953, 085664414801. Email:  aijazihasbullah@yahoo.com .

REDAKSI CERPEN SABTU: Cukup 500 – 1000 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan Cc ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==