“Mengapa burung ada?” Ali bertanya.
“Jangan menanyakan hal-hal aneh seperti itu,” jawab si ibu tanpa menoleh. “Sudah Ibu bilang berkali-kali, jangan suka bertanya yang aneh-aneh.”
“Apakah…” Ali ragu. “Apakah burung ada untuk mengajari manusia terbang?”
Si ibu menoleh, meninggalkan sejenak kesibukan memotong tomat. “Siapa yang mengajarimu berpikir seperti itu?”
“Aku hanya ingin tahu,” jawab Ali.
“Jangan berpikir yang aneh-aneh,” kata ibunya mengulang apa yang sebelumnya ia katakan. Lantas menyuruh Ali ke mana saja, selama tidak menganggu si ibu di dapur.
Ali berjalan ke halaman. Dan ia mendongak. Seekor burung terbang membelah langit. Tampak sangat kecil.
“Ya,” Ali menggumam. “Burung ada untuk mengajari manusia terbang.”

Empat belas menit kemudian, Ali telah berada di jembatan tak jauh dari rumahnya. Ali berdiri di tepi jembatan dan melihat ke bawah. Sungai mengalir sekitar tiga puluh meter dari tempatnya berdiri.
Ali memeriksa sekeliling. Dan seekor burung kutilang melompat dari dahan pohon rambutan di dekat jembatan.
Ali kembali melihat ke bawah.
“Aku hanya perlu mengepakkan tangan,” ia menggumam. “Dan aku akan terbang seperti burung-burung. Untuk itulah burung-burung ada.”
Dan Ali melompat.
Ali berusaha mengepakkan tangan begitu tubuhnya meluncur. Ia mengepak dan terus mengepak. Namun tubuhnya terus meluncur dan terus meluncur. Semakin lama semakin cepat.
“Oh, sial,” Ali memaki. “Aku akan mati.”
Dan tubuh Ali membentur permukaan sungai, lantas terseret aliran.
Ali mengira telah mati. Pandangannya gelap untuk beberapa saat. Namun kemudian ia merasakan sesuatu terjadi. Ia menggeliat. Ia kembali mengepakkan tangan. Dan begitulah ia melesat keluar dari arus sungai, dan terbang ke langit tinggi.
Sepasang tangannya telah berubah menjadi sepasang sayap lebar.
Ali tertawa dan melesat kian tinggi. Tetes-tetes air berjatuhan dan berkilau tertimpa cahaya matahari.
“Yuhuuuu…” Ali berteriak.
Ali terbang kian ke mari. Ia hinggap di bubungan rumah ketua RT, mengagetkan seorang ibu yang sedang menjemur baju di halaman belakang, mendarat di pasar dan membuat kagum orang-orang yang sedang berada di sana, lantas terbang berputar dan mengolok-olok sekelompok bocah yang sedang bermain kelereng.
Menjelang siang, karena lapar, ia terbang pulang.
Ibunya sudah menunggu di teras rumah.
“Kau sadar apa yang kau lakukan?” si ibu menjerit begitu Ali menginjakkan kaki di halaman.
Si ibu menyeret Ali ke meja makan.
“Aku terbang,” kata Ali. “Aku terbang seperti burung-burung. Aku tahu mengapa burung-burung ada.”
Si ibu menggeleng sedih. “Tentu saja kau tahu mengapa burung-burung ada. Ibu juga tahu mengapa burung-burung ada. Dan banyak orang lain lagi yang tahu mengapa burung-burung ada. Tapi tak ada satu pun yang cukup bodoh untuk ikut-ikutan terbang seperti yang kau lakukan.”
“Tapi apa masalahnya?”
“Ada hal-hal yang cukup kita tahu tapi tak perlu kita lakukan,” kata si ibu setelah menenangkan diri dengan menenggak segelas air putih. “Membongkar kecurangan pemilu atau menentang tambang batu bara milik kaum oligarki, misalnya. Dan tentu saja terbang seperti burung. Orang-orang tidak menyukai orang-orang yang terbang seperti burung meskipun mereka tahu mereka bisa terbang seperti burung. Oleh karena itu, manusia menciptakan pesawat. Kau bahkan bisa berenang dan bernapas dalam air seperti ikan-ikan jika kau benar-benar menginginkannya. Orang-orang tahu itu tapi mereka tidak melakukannya. Oleh karena itulah mereka menciptakan kapal selam.”
Ali tidak cukup memahami apa yang dikatakan ibunya.
“Apa memangnya yang terjadi dengan orang-orang yang terbang seperti burung?” Ali bertanya.
“Orang-orang akan menangkap dan mengurungmu,” kata si ibu. “Atau menembakmu. Sebab itulah yang mereka lakukan kepada burung.”
“Tapi itu tidak mungkin,” kata Ali.

“Tapi itulah yang terjadi,” si ibu menjerit. “Nah, yang harus kau lakukan sekarang adalah diam di rumah. Diam dan jangan keluar. Jangan sampai ada orang yang tahu jika kau terbang seperti burung-burung.”
“Tapi sudah banyak orang yang melihat aku terbang seperti burung,” kata Ali. “Dan bagaimana pun, aku suka terbang seperti burung-burung.”
Si ibu mengurung Ali dalam kamar. Namun tentu saja itu tidak mungkin dilakukan. Sebab ada jendela besar dalam kamar itu. Dan Ali membuka jendela itu, lantas melesat terbang.
Ali terbang ke tempat-tempat yang lebih jauh. Ke sebuah mall. Ke terminal. Ke bandara. Ke perempatan yang macet parah.
Dan orang-orang berteriak melihatnya.
Ali pulang sesaat setelah sore lenyap. Dan ia melihat puluhan orang berkumpul di halaman rumahnya. Si ibu tampak menenangkan orang-orang itu.
Ali mendarat dengan anggun dan orang-orang segera merubungnya.
“Apa kau malaikat?” seseorang bertanya.
“Apa kau pahlawan super?”
“Apa kau alien yang menyamar?”
Dan Ali tertawa. Orang-orang berebut meminta foto, merekam video, meminta tanda tangan, dan seterusnya.
Si ibu, terhalang kerumunan orang, hanya mampu berteriak-teriak dengan sia-sia.
Gelombang orang terus berdatangan sepanjang malam. Dan itu menyebabkan Ali tidak bisa beristirahat. Ia sangat kecapekan. Namun orang-orang terus saja datang tak habis-habis. Beberapa orang melakukan wawancara untuk berita. Dan banyak orang yang hanya ingin melihat dan mengambil foto.
Berita-berita dan unggahan di media sosial yang kemudian muncul memberi keterangan-keterangan luar biasa tentang Ali.
Utusan Tuhan.
Messiah yang dinanti-nantikan.
Ancaman bagi industri transportasi udara.
Si ibu yang kecapekan hanya mampu terduduk pasrah di kursi kecil di teras rumah.
Menjelang dini hari, beberapa orang polisi datang dan dengan tembakan ke udara membubarkan kerumunan.
Orang-orang berhamburan. Dan Ali tertinggal di halaman, terjatuh kelelahan dengan sepasang sayap yang terkulai lemas setelah melayani begitu banyak orang. Si ibu bangkit dengan sisa-sisa tenaga dan menatap para polisi itu. Si ibu tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Kami akan membawa anak ini,” kata komandan polisi kepada si ibu. “Dan kami membawa surat perintah.”
Si ibu mengangguk. Akan sia-sia membela Ali. Si ibu tahu itu tidak mungkin.
“Tapi kenapa?” Ali berseru lemah. “Aku tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum.”
“Kau melakukan banyak sekali pelanggaran, Nak,” kata si komandan mendekati Ali. “Kau melanggar kodrat manusia. Kau menciptakan keramaian tanpa izin. Kau burung kini. Dan burung, sebaiknya, memang hidup dalam kurungan atau terus terbang dan ditembak.”
Ali ingin melawan. Atau setidak-tidaknya, ia ingin melarikan diri. Ali mengepak-ngepakkan sayapnya. Namun ia terlalu lelah dan lemah. Dan sayapnya hanya bergerak sedikit, yang bahkan tak cukup menerbangkan debu di sekitarnya.
Dan demikianlah para polisi membawa Ali.

Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), Cara Kerja Ingatan (novel, 2020), Sapi dan Hantu (kumpulan puisi, 2022), Cerita dari Brang Wetan (kumpulan cerpen, 2022), serta Peta Orang Mati (kumpulan cerpen, 2023). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku Cara Kerja Ingatan merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Buku Sapi dan Hantu adalah juara 3 Sayembara Manuskrip Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2021 dan merupakan nominee buku pilihan Tempo 2022. Ia juga mendapat Anugerah Sabda Budaya dari Universitas Brawijaya tahun 2019. Saat ini tinggal di Samarinda dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan. Hp 087854564747

REDAKSI CERPEN SABTU: Cukup 500 – 1000 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan CC ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.


