Cerpen: Si Belang yang Malang, Kau Akan kukenang

Kuketahui ketika libur tiba. Si Belang begitu aku memanggilnya.  Si belang suka mengendap-endap masuk rumah. Tempat favoritnya yakni nongkrong di dapur sambil rebahan. Terkadang posisi siap siaga menunggu mangsa yang lewat di depan mata. Belakangan ini memang rumah suka kedatangan tamu tak diundang, bikin gaduh seisi rumah. Tamu jenis binatang pengerat yakni tikus. Entah datang dari mana namun kehadirannya membuat geger mengganggu ketentraman. Tikus suka menggigit kabel mesin cuci hingga bikin macet. Menyicipi makanan yang tak bertutup sebelum yang punya menyantapnya. Mengharuskan aku tidak boleh  meleng  alias lengah apalagi lalai agar terbebas dari cengkeraman binatang penyebab penyakit thypus.  Meninggalkan bekas kotoran yang baunya sangat menusuk menyebar kemana-mana.  

Pernah suatu saat Aku pakai lem untuk menjerat tikus. Ternyata lem hanya ampuh untuk mengikat anak cicitnya karena induknya tak mempan jebakan lem. Untung ada si belang yang sedia menjaga siang malam tanpa harus kupinta.  Di suatu waktu Belang dengan sigapnya menangkap tikus dan membawa buruannya ke luar rumah. Belang hanya mempermainkan hasil buruannya hingga mati tapi tak dikonsumsinya layaknya kucing lain.

                Si belang sudah tidak sungkan bertandang ke rumah, mungkin merasa suda akrab dengan penunggunya. Hampir setiap saat menghabiskan waktunya di rumah walau hanya sekedar rebahan atau tidur. Pun Kami sudah terbiasa. Kata orang tua, kehadirannya menandakan ciri rumah yang penuh berkah.

Pada suatu ketika aku baru pulang membawa belanjaan dari warung sayur tetangga sebelah. Aku menaruh belanjaan di dapur tanpa mengikat plastik hingga terbuka. Aku sengaja masaknya agak siangan karena sudah sarapan. Aku asik menonton televisi di ruang tengah. Selang beberapa saat aku ke belakang untuk mengambil gelas minum, mataku terbelalak melihat si belang memangsa ikan yang aku beli tadi pagi. Kesal rasanya aku melihat tingkah lakunya, ingin rasanya mengambil sapu memukul tubuhnya. Namun naluriku mencegahnya, tak sampai hati melakukannya. Tanpa merasa bersalah Si belang meninggalkanku yang masih terbengong kaget.

Aku hanya mengelus dada sambil bergumam,”Ikhlaskan, itu bukan rezekimu. Siapa suruh naruh ikan sembarangan. Itu salahmu sendiri”.

Kejadian serupa berulang, kini menimpa ayam yang telah diungkep siap digoreng yang jadi sasarannya. Beberapa hari  kemudian masakan ikan yang sengaja kudiamkan terlebih dahulu agar adem sebelum kumasukin ke rak makan ludes disantapnya. Setiap habis menyantap hidangannya Si belang cuma melirik ke arahku seolah mengucapkan terimakasih seraya berlalu pergi meninggalkanku yang masih terdiam geram  akibat ulahnya. Tapi apalah dayaku tetap tak akan sampai hati menyakiti tubuhnya yang sesekali bermanja menggelayut di kakiku ketika berjalan. 

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==